Raymon memarkir Astrea tuanya di depan rumah kecil bercat kusam itu, mematikan mesin yang sedari tadi meraung-raung seperti enggan beristirahat, lalu masuk tanpa mengetuk pintu. Samsul sudah berada di dalam, duduk di atas kasur tipis yang mulai kempis, menghadapi layar telepon genggamnya dengan kesungguhan yang hanya dimiliki anak-anak seusianya ketika sedang bermain Mobile Legends. Di samping kasur tergeletak sebuah ransel besar yang mulutnya telah tertutup rapat, tampak lebih siap meninggalkan rumah daripada pemiliknya sendiri.
"Main game terus," kata Raymon sambil menyandarkan bahu di kusen pintu. "Udah dipacking semua?"
"Udah," jawab Samsul, matanya tak lepas dari layar.
"Bapak sama ibu kamu mana?"
"Kerja."
Raymon mengembuskan napas panjang. "Anaknya mau pergi jauh malah pada kerja."
Ia menghampiri ransel itu, mengangkatnya sebentar untuk menakar berat isinya, lalu meletakkannya kembali.
"Kamu siap tinggal di pondok?"
Samsul mengangkat bahu. "Ya gimana lagi. Orang dipaksa."
Raymon mengambil telepon genggam dari tangannya begitu saja. "Udah. Ayo."
"Ngeselin banget."
"Mau berangkat sekarang atau tahun depan?"
Tak lama kemudian mereka sudah berada di halaman. Samsul mengunci pintu rumah, memasukkan anak kunci ke saku celana, lalu menaiki motor. Astrea tua itu baru menyala setelah dua kali tendangan. Asap tipis keluar dari knalpotnya, dan pelan-pelan mereka meninggalkan rumah yang selama delapan belas tahun menjadi tempat Samsul tumbuh, dimarahi, dihukum, dan bersembunyi dari banyak persoalan yang tak pernah benar-benar selesai.
Samsul sempat menoleh sekali. Rumah itu mengecil sedikit demi sedikit hingga akhirnya tertutup tikungan.
Di sepanjang jalan, baliho-baliho calon presiden berdiri berjajar di tepi aspal, memamerkan senyum yang sama lebarnya kepada setiap kendaraan yang lewat.