Di kantin sekolah, bau kuah bakso lebih dahulu menyambut para siswa daripada suara bel istirahat. Uap panas mengepul dari panci besar di sudut dapur, bercampur bunyi sendok yang beradu dengan mangkuk dan teriakan anak-anak yang saling memanggil dari meja ke meja. Aji dan Yazid berjalan begitu saja menuju bangku yang biasa mereka tempati, seolah tak ada sesuatu yang berubah dari hari-hari sebelumnya. Hanya Samsul yang beberapa kali menoleh ke sekeliling, memandangi wajah-wajah yang belum dikenalnya, suara-suara yang belum akrab di telinganya, serta kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan harus dihafalnya satu per satu.
Mereka mengambil tempat di meja pojok.
"Karena kamu baru masuk sekolah," kata Yazid, "hari ini bakso kamu aku traktir."
Samsul mengangguk. "Makasih."
Aji memandang Yazid sambil memonyongkan bibir. "Aku nggak?"
"Iya, iya."
Aji mendekat ke telinga Samsul. "Orang kaya dia. Porotin aja."
Belum selesai ia berbisik, telapak tangan Yazid lebih dulu mendarat di belakang kepalanya. "Enak aja," ketusnya.
Tawa kecil pecah di antara mereka. Samsul ikut tersenyum, meski senyumnya masih tampak canggung. Selama beberapa hari berada di pondok, baru kali itu ia merasakan dirinya duduk di tengah orang-orang yang mengajaknya bercakap tanpa lebih dulu menanyakan mengapa ia dikeluarkan dari sekolah lamanya.
Hari bergeser menuju sore. Seusai sekolah para santri kembali ke pondok, makan siang bersama, mengaji, lalu mengikuti kegiatan sebagaimana hari-hari yang lain. Menjelang magrib lorong-lorong asrama mulai dipenuhi sandal jepit yang berserakan di depan kamar. Bau minyak kayu putih, pakaian yang baru dijemur, dan sabun mandi bercampur menjadi satu, sementara dari berbagai penjuru terdengar suara anak-anak melagukan hafalan kitab dengan nada yang hampir sama.
Di dalam kamar, sebagian santri menyalin pelajaran ke buku tulis, sebagian lain mengulang hafalan, ada pula yang bercakap pelan tentang tugas sekolah atau kampung halaman yang mereka tinggalkan. Aji dan Yazid duduk berdampingan mengerjakan pekerjaan rumah, sesekali saling memperlihatkan sesuatu di layar telepon genggam lalu tertawa pelan agar tak terdengar sampai ke luar kamar.
Samsul memilih sudut yang agak jauh dari mereka. Ia duduk bersila dengan telepon genggam di tangan. Kedua ibu jarinya bergerak cepat di atas layar, jauh lebih cepat daripada ketika diminta membuka kitab atau mencatat pelajaran. Wajahnya berubah-ubah mengikuti jalannya permainan; kadang mengerut, kadang tersenyum sendiri, kadang mendesah pelan ketika tokoh yang dimainkannya tumbang.
Adam masuk tanpa mengetuk pintu. Pandangannya segera jatuh kepada Samsul yang masih menatap layar telepon genggam seolah tak ada orang lain di dalam kamar. Ia menghampiri Aji, mencubit telinganya pelan. "Temanmu itu bilangin."
Aji menoleh. "Kenapa, Kang?"
Adam mengangguk ke arah Samsul. "Lah, kok malah main game?" Ia merasa keheranan.
Samsul tidak segera mengangkat kepala. Permainan itu rupanya tinggal menyisakan beberapa detik lagi, dan beberapa detik itu terasa lebih penting daripada suara Adam ataupun aturan-aturan pondok yang baru mulai dikenalnya.
***