Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #6

Bab 5

Langit malam terbentang di atas halaman masjid yang penuh cahaya lampu hias. Dari dapur umum, bau gulai dan sate sesekali terbawa angin, bercampur harum kopi yang dituangkan ke gelas-gelas plastik. Pengeras suara menggantung di tiang-tiang besi, memantulkan suara sampai ke gang-gang kampung. Orang-orang telah memenuhi terpal panjang sejak selepas Isya, duduk bersila dalam barisan yang nyaris tak menyisakan ruang kosong.

Di atas panggung, Gus Afif berdiri dengan sorban melingkar di pundaknya. Tangannya menggenggam mikrofon, sementara wajah-wajah di bawah panggung memandang kepadanya seperti murid-murid yang menunggu pelajaran pertama.

"Sebagai umat Islam," katanya, "kita ini mestinya lebih baik dari tahun kemarin. Kalau umurnya bertambah, imannya jangan sampai tetap tinggal."

Beberapa kepala mengangguk.

Di saat yang sama, Samsul dan Yazid muncul dari belakang halaman. Langkah mereka pelan, berusaha melewati sela-sela jamaah tanpa banyak menarik perhatian. Hanya beberapa orang sempat menoleh sebelum kembali mendengarkan suara dari pengeras.

"Coba lihat berita," kata Gus Afif lagi. "Begal di mana-mana. Penipuan macam-macam. Orang semakin gampang melakukan maksiat."

Samsul dan Yazid berhenti di samping Aji, melepaskan sandal, lalu duduk bersila.

"Dari mana?" bisik Aji.

"Belakang," jawab Yazid.

Aji tak bertanya lagi.

"Kalau diperiksa KTP mereka," suara Gus Afif memenuhi halaman, "agamanya apa?"

"Islam!" sahut jamaah serempak.

"Islam KTP."

Terdengar tawa kecil yang menyebar dari beberapa baris depan hingga ke belakang. Gus Afif membiarkannya sebentar sebelum kembali berbicara.

Lihat selengkapnya