Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #7

Bab 6

Adam masuk ke kamar santri sambil membopong sebuah kardus berisi telepon genggam yang selama seminggu terakhir disita dari para penghuni kamar. Kardus itu segera dikerubungi anak-anak. Mereka saling menyebut merek ponsel, saling menyenggol bahu, seolah sedang membongkar kiriman hadiah.

“Hp-hp! Yang mau ngerjain tugas sekolah, ambil nih!”

Tangan-tangan segera menyelam ke dalam kardus. Aji menemukan miliknya lebih dulu. Yazid menyusul beberapa detik kemudian. Samsul ikut mencari, membolak-balik ponsel yang bertumpuk, sampai isi kardus hampir habis dan ia tak menemukan apa yang dicarinya.

“Hp saya mana, Kang? Kan masa hukumannya sudah selesai.”

Adam memandangnya beberapa saat, seolah hendak memastikan sesuatu.

“Janji nggak buat nge-game?”

“Janji, Kang.”

Barulah Adam merogoh saku jaketnya. Rupanya telepon itu memang sengaja dipisahkan. Ia menyerahkannya tanpa senyum.

“Awas, kalau sampai main game.”

“Iya, Kang.”

Samsul menerima ponselnya dengan kedua tangan. Wajahnya tetap datar, tetapi jari-jarinya segera memeriksa apakah benda itu masih utuh, seolah sedang memastikan ada bagian hidupnya yang akhirnya kembali.

Adam tidak langsung pergi. Ia berdiri di ambang pintu, mengawasi anak-anak yang mulai menunduk di atas buku pelajaran. Di kamar itu hanya terdengar bunyi kipas angin yang berderit dan gesekan pena di atas kertas. Samsul membuka bukunya, namun matanya berkali-kali melirik ke pintu. Ia menunggu Adam pergi lebih dulu.

Tak lama kemudian Adam melangkah keluar. Pintu ditarik pelan hingga terdengar bunyi klik yang nyaris tak terdengar.

Baru setelah suara langkah itu benar-benar menjauh, Samsul mengembuskan napas panjang.

Ia menepuk pelan bahu Yazid. “Aku ke kamar mandi bentar. Siapa tahu ada yang nyariin.”

Yazid hanya mengangguk tanpa mengangkat kepala.

Samsul menyelipkan telepon genggamnya ke balik sarung, lalu keluar dari kamar. Langkahnya cepat, tetapi tak tergesa-gesa, seperti seseorang yang sudah berkali-kali melakukan perjalanan yang sama. Ia melewati lorong, lalu menuju halaman belakang pondok.

Malam turun tanpa banyak suara. Angin menggoyangkan daun-daun pisang di balik pagar, sementara lampu belakang memantulkan cahaya kekuningan ke tanah yang masih lembap. Samsul berhenti sejenak, menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak ada siapa-siapa. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia memanjat pagar rendah itu, melompat ke sisi luar, lalu berjalan cepat menyusuri jalan kampung.

Lihat selengkapnya