Suasana baru saja pecah dan kembali reda. Pintu-pintu dibuka lalu ditutup lagi, suara sandal dan sepatu bergesek di lantai semen, beberapa santri saling melempar olok-olok sebelum berhamburan keluar menuju halaman. Setelah itu kamar kembali dikuasai kesunyian. Tinggal Samsul seorang diri, berpura-pura membereskan tasnya, padahal sesungguhnya sedang menunggu saat yang tepat.
Ia mengangkat kepala, memastikan lorong benar-benar lengang. Dari luar hanya terdengar burung-burung berkicau di antara pohon mangga, sementara angin menggerakkan jemuran sarung hingga saling beradu pelan. Tak ada langkah kaki yang terdengar lagi.
Barulah matanya jatuh pada sebuah loker yang pintunya menganga sedikit, seolah lupa ditutup rapat oleh pemiliknya. Ia mendekat. Jemarinya menyentuh gagang besi yang dingin. Sebentar ia diam, mendengarkan napasnya sendiri, sebelum menarik pintu itu perlahan.
Loker itu terbuka tanpa banyak bunyi. Di dalamnya bertumpuk jaket, sarung, beberapa potong baju, disusun serapi orang yang percaya tak seorang pun akan mengusik miliknya. Samsul menyibak tumpukan itu satu demi satu. Di dasar loker, sebuah dompet tampak menyembul.
Di dalamnya ada selembar lima puluh ribu, beberapa lembar dua puluh ribu, dan recehan yang berdesakan di sudut kulit dompet. Tak banyak, tetapi cukup membuat tangannya bergerak lebih dulu daripada pikirannya.
Jarinya mengambil selembar dua puluh ribu. Hanya satu lembar. Lalu dompet itu ditutup kembali. Baju-baju dirapikan seperti semula, setiap lipatan dikembalikan ke tempat asalnya, hingga loker itu tampak tak pernah disentuh siapa pun.
Ketika pintunya ditutup, Samsul berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Uang itu telah berpindah ke dalam sakunya, dan sesuatu yang tak dikenalnya ikut berpindah ke dalam dadanya.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti kebiasaan yang tak pernah direncanakan, tetapi selalu menemukan jalannya sendiri. Setelah mengaji ia menuju warnet, menghabiskan waktu hingga malam, lalu kembali ke kamar ketika sebagian besar santri telah tertidur pulas. Paginya ketika para santri meninggalkan kamarnya untuk urusan masing-masing, jika ada loker yang terbuka, Samsul akan menghampiri, jika ada dompet yang tertinggal, ia akan membukanya.
Kadang ia memperoleh dua puluh ribu, kadang sepuluh ribu, kadang hanya recehan yang bahkan tak cukup membeli sebungkus rokok. Namun tangannya tetap bekerja dengan kesabaran yang sama. Menyibak pakaian, mengingat letak barang, mengembalikan semuanya ke posisi semula. Seolah-olah yang dicurinya bukan uang, melainkan keyakinan orang-orang bahwa kamar itu masih aman.
Di sudut lain, Randu mulai lebih sering membongkar lokernya sendiri, menghitung uangnya berulang-ulang. Aji mengunci barang-barangnya dengan gembok baru. Yazid tak lagi meninggalkan dompet di dalam lemari. Mereka saling memandang dengan curiga, tetapi belum seorang pun sanggup menunjuk wajah pelakunya.
Sementara itu Samsul menjadi semakin cekatan. Tangannya hafal pekerjaan itu sebagaimana tangan seorang penjahit hafal pada jarum, atau tukang kayu pada pahatnya. Pondok yang dahulu dikenalnya sebagai tempat belajar perlahan berubah menjadi tempat ia menyembunyikan dosa-dosa kecil, yang karena terlalu sering dilakukan, tak lagi terasa seperti dosa.
***
Gus Afif mondar-mandir di dalam kamar santri. Langkahnya bolak-balik dari pintu ke deretan kasur, lalu kembali lagi ke sudut tempat ia biasa meletakkan barang. Tangannya membuka lipatan selimut, mengangkat bantal, mengintip ke bawah ranjang, seolah-olah benda yang dicarinya hanya sedang bersembunyi.
"Dam!" panggilnya.
Tak lama terdengar sahutan dari luar. "Nggih, Gus!"
Adam muncul di ambang pintu dengan napas yang masih terburu. "Kenapa, Gus?"