Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #9

Bab 8

Kolam ikan di belakang pondok tampak hitam di bawah cahaya lampu yang menggantung miring di serambi. Sesekali permukaan air bergoyang, entah karena ikan yang muncul sebentar lalu lenyap lagi ke dasar, entah hanya karena angin malam yang berembus pelan. Di bibir kolam itulah Randu duduk memeluk lututnya, ponsel masih menempel di telinga.

"Loh? Kemarin Ayah baru kirim, kok sudah habis?" suara di seberang bertanya.

Randu tidak segera menjawab. Pandangannya tetap jatuh ke air yang memantulkan cahaya lampu menjadi garis-garis patah.

"Nggak tahu, Yah," katanya kemudian. "Kayaknya hilang terus."

"Hilang bagaimana?"

"Uangnya berkurang sendiri. Sudah beberapa kali."

Di ujung telepon terdengar helaan napas yang panjang. Lalu hening beberapa saat, hanya suara jangkrik yang memenuhi sela percakapan mereka.

"Sudah bilang ke pengurus?"

"Belum."

"Kenapa?"

Randu menggeser batu kecil dengan ujung sandalnya hingga tercebur ke kolam. "Takut dikira ngarang."

Ayahnya kembali diam. Barangkali sedang menghitung-hitung pengeluaran bulan itu, atau mengingat berapa kali ia telah mengirim uang sejak anaknya tinggal di pondok.

"Ya sudah," katanya akhirnya. "Nanti Ayah kirim lagi. Tapi Ayah akan bicara ke Bu Nyai. Begini terus nggak bisa."

"Iya, Yah."

Telepon terputus.

Randu masih duduk di tempat yang sama. Ponsel telah turun ke pangkuannya, tetapi matanya belum beranjak dari kolam. Air yang bergelombang kecil itu tak memberi jawaban apa pun, hanya memecah bayangan lampu menjadi serpihan-serpihan cahaya yang sebentar muncul, sebentar tenggelam.

Belum genap sebulan ia tinggal di pondok itu. Ketika pertama datang, ia mengenal tempat itu lewat suara azan yang bersahut-sahutan, bau kayu dari bangunan lama, dan santri-santri yang menyalaminya sambil bertanya dari mana asalnya. Hari-hari pertama dilaluinya tanpa banyak kesulitan. Ia mulai mengenali jadwal mengaji, letak kamar mandi, jalan menuju dapur, juga nama-nama beberapa penghuni kamar.

Lalu uang di dalam lokernya mulai berkurang. Mula-mula ia mengira salah menghitung. Kemudian ia menyalahkan dirinya sendiri, barangkali uang itu jatuh ketika membeli makan, atau tertinggal di warung. Namun ketika kejadian serupa berulang, dan jumlah yang hilang selalu berbeda, ia mulai membuka dompetnya lebih sering daripada biasanya, menghitung lembar demi lembar sebelum tidur, lalu menghitungnya lagi keesokan pagi.

Tak ada yang berubah di kamar itu. Orang-orang masih bercanda seperti biasa, masih tertawa ketika lampu dipadamkan. Hanya Randu yang kini memandang loker miliknya sedikit lebih lama setiap kali hendak meninggalkannya, seakan-akan benda sederhana itu tak lagi sanggup menjaga apa yang disimpan di dalamnya.

***

Aji dan Yazid pulang dari sekolah ketika matahari mulai turun ke balik pepohonan di pinggir jalan. Seragam mereka kusut oleh debu, tas bergantung berat di bahu. Di depan, Samsul berjalan beberapa langkah lebih dulu, lalu membelok ke sebuah warnet yang berdiri di samping kios fotokopi.

Aji berhenti.

"Uangmu sudah dibalikin belum?"

Yazid menggeleng.

"Belum."

Lihat selengkapnya