Halaman belakang pondok berbau lumpur yang baru terusik. Aji, Yazid, dan Adam membersihkan kolam ikan sejak siang. Lumut yang melekat di dinding kolam mereka kerok sedikit demi sedikit, air keruh dikuras, lalu diganti dengan yang baru. Hampir tak ada percakapan di antara mereka, hanya bunyi ember diseret dan sesekali cipratan air memecah sepi.
Menjelang sore, pekerjaan itu selesai. Mereka duduk di atas tikar lusuh di bawah rindang pohon mangga, mengembuskan napas panjang sambil membiarkan pakaian yang basah mengering sendiri. Dari percakapan yang semula berpindah-pindah, pembicaraan akhirnya kembali pada perkara yang beberapa hari terakhir menggelayuti pondok. Pencurian.
Uang santri hilang sedikit demi sedikit. Randu berkali-kali kehilangan kiriman ayahnya. Yazid pernah kehilangan juga beberapa kali. Aji barangkali sekitar limapuluh ribu raib dari lemarinya. Belum selesai orang mempercakapkan itu, ponsel Gus Afif ikut lenyap. Nama yang berulang kali muncul di sela-sela dugaan mereka tetap sama: Samsul.
Anak itu sering menghilang saat kegiatan pondok. Malam-malamnya lebih banyak dihabiskan di warnet. Ia meminjam uang, tetapi tak kunjung mengembalikannya. Tak ada seorang pun yang pernah melihat tangannya mengambil barang milik orang lain, namun setiap kehilangan seolah menyeret namanya ke permukaan.
Adam mengisap rokoknya dalam-dalam. Asap keluar perlahan dari mulutnya sebelum ia berkata, "Kayaknya perlu ditindak. Sebelum makin parah."
Aji mengangguk. "Aku juga curiga sama dia."
Yazid tidak menyahut. Pandangannya jatuh ke permukaan kolam yang mulai tenang. Air yang tadi keruh kini perlahan menjernih, tetapi percakapan mereka tidak. Dugaan itu tetap mengendap, menunggu sesuatu yang kelak membenarkan atau mematahkannya.
Senja habis sedikit demi sedikit. Seusai salat Isya, pondok kembali dipenuhi kegiatan yang biasa. Sebagian santri mencuci pakaian di belakang asrama, sebagian lain bercakap di beranda, sementara beberapa orang masih mondar-mandir di halaman.
Di tengah kesibukan itu, Gus Afif berdiri bersama Adam. Pandangan mereka menyapu halaman, berhenti pada setiap wajah yang melintas, seolah sedang menunggu seseorang yang belum juga pulang.
"Ayo, semuanya ke kamar. Cepat."
Suara itu tak perlu diteriakkan berkali-kali. Para santri saling menoleh, lalu bergerak hampir serempak. Sandal berderap di lantai semen. Obrolan yang tadi mengalir putus begitu saja.
Adam memeriksa para santri yang kini berkumpul di satu kamar. Kepalanya menyembul dari balik pintu. "Siapa yang belum ada?"
Aji mengangkat wajah. "Samsul."
Adam kembali ke halaman. "Belum masuk."
"Tunggu," kata Gus Afif pendek. "Dia harus ikut."
Mereka menunggu.
Tak lama kemudian, dari arah gerbang, tampak Samsul berjalan sendiri. Langkahnya pelan, seakan malam masih memberinya cukup waktu untuk pulang tanpa persoalan. Namun begitu melihat Gus Afif dan Adam berdiri menantinya, langkah itu terhenti. Ada sesuatu pada wajah kedua orang itu yang membuat udara mendadak terasa lebih dingin.
"Dari mana?" tanya Gus Afif.
"Dari warung, Gus."
"Masuk."
Hanya satu kata. Namun Samsul merasa kata itu lebih berat daripada pintu pondok yang sedang ia dorong.
Begitu memasuki kamar, puluhan mata menoleh kepadanya. Tak ada suara. Para santri duduk berderet di sepanjang dinding, menyisakan ruang kosong di tengah. Ruangan itu tak lebih sempit dari biasanya, tetapi malam itu terasa seolah-olah dindingnya bergeser beberapa jengkal lebih dekat.
Samsul memilih sudut paling ujung. Duduk dengan kepala tertunduk.
Tak lama kemudian Adam masuk dan mengambil tempat di tengah ruangan. Sesudahnya Gus Afif menyusul sambil membawa sebatang rotan. Ia tidak berkata apa-apa. Rotan itu saja sudah cukup membuat beberapa santri menelan ludah.
Barulah ia membuka suara. "Kalian tahu kenapa malam ini saya kumpulkan?"
Tak seorang pun menjawab. Hanya bunyi kipas angin tua yang berputar lambat di langit-langit.
Gus Afif membiarkan diam itu menggantung beberapa saat. Pandangannya beredar perlahan, singgah pada setiap wajah yang menunduk.
"Pondok kita sedang tidak baik-baik saja," katanya. "Ada curut di sini!"
Beberapa santri saling melirik, tetapi tak ada yang membuka mulut. Samsul menundukkan kepala lebih dalam. Jemarinya saling menggenggam, lalu melepaskan, kemudian menggenggam lagi, seolah hanya itu yang masih sanggup ia kuasai.
"Kemarin malam Bapak sudah kasih kesempatan buat mengaku," lanjut Gus Afif. "Tapi tidak ada yang merasa bersalah!"
Ruangan kembali tenggelam dalam sunyi. Hanya terdengar kipas angin berputar lambat dan bunyi seseorang menelan ludah. Di sebelahnya, Randu mulai terisak. Yazid merangkul bahunya tanpa berkata apa-apa.
Gus Afif mengangkat rotan yang sejak tadi berada di tangannya. "Sekarang saya kasih kesempatan terakhir." Rotan itu diketukkan perlahan ke telapak tangannya. "Kalau masih tidak ada yang mengaku, rotan ini bisa mengenai siapa saja."
Tak ada yang bergerak. Tatapan para santri berpindah-pindah, tetapi tak pernah cukup lama singgah pada wajah orang lain. Masing-masing seolah takut menjadi orang berikutnya yang dipanggil.
"Kalau sampai subuh tidak ada yang mengaku," suara Gus Afif meninggi, "jangan harap ada yang tidur malam ini."
Adam menghentakkan telapak tangannya ke lantai. "NGAKU NGGAK!"
Beberapa tubuh tersentak. Rotan di tangan Gus Afif berayun pelan, membelah udara, lalu berhenti menyentuh lantai dengan bunyi pendek yang membuat ruangan kembali diam. "Saya sama Adam sudah curiga sama satu anak." Matanya berhenti pada satu wajah. "Samsul."
Puluhan kepala menoleh hampir bersamaan.
Samsul mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sembap. Bibirnya bergetar. "Nggih, Gus."