Rumah itu berdiri sendirian di tengah kebun, sedikit menjauh dari kumpulan rumah di pinggir kota kecil. Dinding kayunya kusam dimakan hujan, beberapa papan mengembang sehingga bila malam tiba angin dapat menyelinap lewat celah-celahnya. Atap sengnya menyimpan panas sepanjang siang dan mengembalikannya perlahan selepas matahari tenggelam. Di kiri dan belakang rumah, jagung-jagung milik tetangga tumbuh rapat, seolah saban minggu hendak menelan bangunan kecil itu hidup-hidup.
Menjelang sore, angin turun dari kebun dan menggoyang batang-batang jagung hingga saling bergesekan, menciptakan bunyi lirih yang berulang-ulang. Bunyi itu telah lama menjadi penanda waktu bagi penghuni rumah itu. Mereka tak lagi mendengarnya sebagai suara daun, melainkan sebagai sesuatu yang selalu ada, seperti napas rumah sendiri.
Agus tinggal di sana bersama istrinya, Dini, dan anak perempuan mereka, Cinta. Ialah si Tukang Somay yang usianya sudah menginjak tiga puluh lima tahun, tetapi wajahnya tampak lebih tua, seolah kemiskinan mempunyai cara sendiri untuk menambah umur seseorang.
Dahulu, ibu kandung Agus sering bekerja menyewakan tenaganya untuk mencuci pakaian orang sekampung, sementara ayahnya bekerja serabutan, dan ketika Agus berhasil lulus SMK, keluarga mereka merayakannya seperti orang lain merayakan anak yang diterima menjadi pegawai negeri. Sayang, ijazah itu tak pernah benar-benar mengubah nasib. Ia pernah mengangkat karung di gudang, mengaduk semen di proyek, membersihkan kebun orang, sampai akhirnya mendorong gerobak somay dari gang ke gang, dari sekolah ke sekolah. Pekerjaan itu tak membuatnya kaya, tetapi cukup menjaga asap dapur tetap mengepul.
Namun istrinya, Dini, ia datang dari kehidupan yang nyaris bertolak belakang. Dulu orang-orang mengenalnya sebagai atlet lempar lembing. Ia pernah berdiri di podium SEA Games dengan medali perunggu tergantung di dada, sempat pula diwawancarai televisi, sebelum cedera bahu merampas semua yang telah dibangunnya bertahun-tahun. Sesudah itu, tepuk tangan menghilang lebih cepat daripada rasa sakit di pundaknya. Ia pulang ke kampung, menikahi Agus, dan pelan-pelan belajar menerima bahwa seseorang bisa begitu mudah dilupakan setelah tak lagi membawa kemenangan.
Kadang-kadang, ketika menjemur pakaian di halaman, ia masih teringat lintasan stadion, sorak penonton, dan lembing yang melayang jauh di udara. Namun kenangan semacam itu cepat berlalu, sebab selalu ada beras yang harus ditanak, pakaian yang harus dicuci, dan anak yang harus dibesarkan.
Rumah itu tak pernah benar-benar ramai. Yang terdengar hanya desir daun jagung, kokok ayam tetangga, atau derit roda gerobak Agus setiap pagi ketika meninggalkan halaman. Selepas matahari merambat tinggi dan Dini kembali tenggelam dalam pekerjaan rumah, Agus telah berada di jalan, mendorong gerobaknya dari satu sudut kota ke sudut yang lain. Menjelang jam pulang sekolah, seperti hampir setiap hari, ia berhenti di depan gerbang SD yang mulai dipenuhi murid-murid.
Asap tipis mengepul dari kukusan, membawa aroma ikan dan bawang yang pelan-pelan mengundang anak-anak mendekat. Ia baru saja menuangkan kuah kacang ke mangkuk plastik ketika ponsel tuanya bergetar di saku celana. Agus menjepit telepon itu di antara bahu dan telinga, sementara tangannya tetap melayani pembeli.
"Iya, kenapa?"
Suara Dini terdengar pecah-pecah dari seberang. "Ini, gurunya Cinta ngomong terus. Katanya sekarang anak sekolah butuh HP Android."
Agus tidak segera menjawab. Tangannya tetap bekerja menyusun tahu, kentang, dan kol ke dalam mangkuk plastik. Di ujung telepon, Dini masih mengatakan sesuatu, tetapi suaranya pelan-pelan tenggelam oleh riuh anak-anak yang baru keluar sekolah.
"Iya," katanya akhirnya. "Nanti Mas pikirkan."
Telepon ditutup. Agus memasukkannya kembali ke saku, lalu melayani pembeli berikutnya. Siang itu berlalu seperti hari-hari sebelumnya. Gerobaknya berpindah dari gerbang sekolah ke perempatan pasar, lalu ke lapangan tempat anak-anak bermain bola menjelang sore. Kukusan makin ringan, tetapi kepalanya justru terasa semakin penuh oleh satu kalimat yang sejak tadi tak mau pergi: anak sekolah sekarang butuh HP Android.
Menjelang magrib, ketika matahari tinggal segaris di balik rumpun bambu, Agus mendorong gerobaknya pulang. Roda-roda besi itu berderit melewati jalan berbatu yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.
Malam turun perlahan di atas rumah kecil yang dikepung kebun jagung itu. Tak lama kemudian terdengar derit roda gerobak berhenti di halaman, disusul bunyi ember plastik diletakkan di tanah.
Agus muncul di ambang pintu. Bajunya basah oleh keringat yang telah mengering berkali-kali sepanjang hari. Kukusan aluminium, ember saus, dan kaleng kerupuk diturunkannya satu demi satu, seperti pekerjaan yang telah dilakukan tubuhnya tanpa perlu dipikirkan lagi.
"Ayah pulang."
Cinta berlari dari ruang tengah dan memeluk kakinya. "Ayah."
Agus membungkuk, mencium pipi anaknya.b"Sekolah gimana?"
"Aku dapat seratus."
"Wah."
Ia mengusap rambut anak itu. "Besok kalau seratus lagi, Ayah beliin es krim."