Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #12

Bab 11

Langkah Gus Afif akhirnya berhenti di sebuah sekolah negeri di pinggir kota. Menurut penjaga konter yang ia temui sehari lalu, ponsel itu kini berada di tangan seorang penjual somay yang setiap sore mangkal di depan gerbang sekolah.

Jam pelajaran baru saja usai ketika ia sampai. Gerbang sekolahnya terbuka lebar, lalu memuntahkan ratusan siswa berseragam putih abu-abu ke trotoar. Mereka berhamburan ke segala arah, sebagian menunggu jemputan, sebagian mengerubungi pedagang kaki lima yang berjejer di bawah pohon-pohon trembesi. Udara sore dipenuhi bau gorengan, bakso kuah, cilok, dan uap somay yang mengepul dari sebuah gerobak bercat hijau.

Di sanalah Agus berdiri. Tangannya cekatan mengangkat kentang, tahu, kubis, dan somay dari panci aluminium yang terus mengeluarkan uap. Sesekali ia tertawa menanggapi gurauan para langganannya, lalu kembali menuangkan bumbu kacang dengan gerakan yang seperti telah dihafal tubuhnya bertahun-tahun.

Beberapa langkah dari sana, Gus Afif berdiri di balik tiang listrik. Sebagian wajahnya tertutup masker hitam. Pandangannya tak pernah lepas dari lelaki itu.

Ia memperhatikan setiap gerakan Agus. Cara membuka tutup panci. Cara menerima uang. Cara merogoh saku celana. Mungkin ponsel itu masih disimpan di sana, atau barangkali ungkin sudah dijual lagi, pikir Gus Afif. Jangan-jangan, pikirnya lagi, isi ponsel itu telah lebih dulu dilihat. Pikiran terakhir membuat tengkuknya terasa dingin.

Ia menunggu sampai kerumunan siswa mulai menipis. Satu per satu pembeli meninggalkan gerobak, menyisakan Agus yang sedang mengelap tangannya dengan lap lusuh.

Barulah Gus Afif mendekat. "Somay sepuluh ribu," pintanya.

"Siap." Agus merespon tanpa menyadari bahwa pria di depannya punya maksud lain.

Ia segara melayani Gus Afif tanpa banyak bicara. Potongan somay dipindahkan ke plastik, disiram bumbu kacang, diberi kecap, saus, dan sedikit perasan jeruk limau.

"Ramai terus ya kalau jam segini," kata Gus Afif, menerima plastik pesanannya.

Agus tersenyum. "Anak sekolah baru pulang. Ya beginilah tiap hari."

Gus Afif mengangguk pelan. Ia menusuk sepotong somay, mengunyahnya perlahan, seolah tak ada tujuan lain selain membeli makanan. Lalu ia bertanya, nyaris tanpa tekanan. "Mas, pernah jual beli HP?"

Agus mengangkat kepala. "HP?"

"Iya. Saya lagi cari HP merek Grooss."

Agus menggeleng. "Nggak ngerti saya soal begituan."

"Kalau ada yang nawarin, saya beli delapan ratus ribu."

Tangan Agus berhenti sesaat, lalu kembali merapikan tutup panci. "Wah, saya mah jualannya somay."

"Susah nyarinya."

"Coba ke konter HP aja, Mas."

"Udah."

"Nggak ketemu?"

"Nggak."

Agus terkekeh kecil. "Kalau satu gerobak somay dibeli delapan ratus ribu, saya mau." Ia tertawa pendek, mengira percakapan itu tak lebih dari candaan.

Gus Afif ikut tersenyum. Namun senyum itu tak pernah sampai ke matanya. Ia menghabiskan potongan somay terakhir, meremas plastik kosong di tangannya, lalu mengucapkan terima kasih sebelum berbalik meninggalkan gerobak.

Lihat selengkapnya