Siang itu matahari menggantung nyaris tepat di atas kepala. Bayangan gerobak-gerobak pedagang hanya jatuh sejengkal di atas aspal depan sekolah. Agus berdiri menyandarkan punggung pada tiang gerbang, mengisap rokok pelan-pelan sambil menunggu bel pulang berbunyi. Tak jauh darinya, seorang penjual cireng yang usianya mungkin lewat empat puluh duduk di bangku plastik. Gerobaknya hampir kosong. Di tangan kirinya tergenggam ponsel yang memutar siaran ulang debat calon presiden.
Suara dari ponsel itu terdengar lirih, namun cukup jelas di sela lengangnya siang.
"...nilai-nilai agama bukan untuk membatasi, melainkan menjaga kehidupan bersama," kata seorang lelaki dari balik layar.
Agus melirik sekilas. "Nonton apaan, Kang?"
"Debat capres."
"Oh."
Penjual cireng itu mengecilkan volume, lalu tersenyum. "Yang ini seru. Nasrulloh bilang hukum harus dibangun di atas nilai agama. Si Jaris langsung nyanggah, panjang."
Agus mengembuskan asap rokok ke udara. "Terus?"
"Ya... saling adu argumen."
Agus mengangguk kecil, seolah mengerti, padahal tidak terlalu peduli. "Mau siapa juga yang menang..." katanya kemudian. "Besok saya tetap dorong gerobak."
Penjual cireng terkekeh. "Itu mah iya."
"Yang beli cireng tetap anak sekolah. Yang beli somay juga tetap anak sekolah."
"Kecuali sekolahnya libur."
Mereka sama-sama tertawa pendek.
Beberapa detik kemudian, penjual cireng itu kembali menatap layar ponselnya. "Tapi ya, kalau kita nggak peduli, nanti yang bikin aturan bakalan seenaknya."
Agus mematikan puntung rokok di tiang gerbang. "Peduli juga belum tentu didengar."
Penjual cireng tak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu, seperti seseorang yang sudah terlalu sering kalah oleh kenyataan sehingga tak lagi merasa perlu membantah.
Dari ponselnya, suara moderator kembali memenuhi udara siang yang pengap. Di kejauhan, bel sekolah akhirnya berbunyi. Sesaat kemudian gerbang terbuka, dan halaman yang semula lengang mendadak dipenuhi gelombang seragam putih abu-abu yang mengalir keluar, menelan percakapan dua lelaki itu bersama riuh langkah para pelajar.
Tak jauh dari sana, seseorang ikut menyaksikan keramaian itu tanpa benar-benar menjadi bagiannya. Ia berdiri beberapa saat di bawah rindang pohon trembesi, lalu berbalik meninggalkan halaman sekolah. Jalan yang dipilihnya sama dengan jalan yang akan dilalui Agus ketika matahari mulai turun.
Menjelang sore, keramaian kota perlahan mengendur. Satu demi satu pedagang membereskan dagangan, murid-murid telah lama pulang, dan jalanan kembali sepi. Hanya angin yang sesekali melintas, menggoyangkan pucuk-pucuk jagung di pinggir kampung.
Di waktu itulah Gus Afif tiba.
Sore itu, halaman rumah Agus sunyi. Hanya suara tonggeret yang meraung panjang di sela-sela senyap. Matahari mulai condong ke barat, menyisakan cahaya hangat yang menyorot dedaunan.
Di balik pepohonan di tepi halaman, Gus Afif mondar-mandir, tubuhnya menunduk, langkahnya ringan tapi tegang. Setiap gerakannya terlihat hati-hati, sesekali ia berhenti, menempel di batang pohon atau menunduk di balik pagar, matanya mengamati Dini yang sedang mengambil jemuran terakhir, dan Cinta yang bersandar di dinding, asyik dengan ponselnya. Napasnya berat, tangan kanannya terus mengepal sesuatu di saku kemeja, permen lolipop.
Gus Afif menunggu. Kedua tangannya tersembunyi di balik sarung tangan tipis warna gelap yang ia kenakan sejak tadi—sarung tangan yang sengaja ia bawa untuk satu alasan, tidak meninggalkan sidik jari di mana pun, apalagi jika sesuatu yang tidak diinginkan terpaksa harus ia lakukan. Kain sarung tangan itu menempel ketat, memastikan tak ada permukaan kulit yang terekspos.
Masker menutupi sebagian besar wajahnya, sementara kemeja panjang yang ia kenakan menutupi lengan hingga pergelangan, membuat dirinya nyaris tanpa identitas.
Di saku kemeja, tangan kanannya meremas sesuatu—permen lolipop yang juga sudah ia bungkus dengan tisu, agar tak meninggalkan sidik di plastiknya. Ia berhati-hati, memastikan apa pun yang ia bawa tidak langsung tersentuh kulit.
Napasnya teratur namun berat. Ia menunggu, mencari celah, memastikan tak ada satu pun jejak yang bisa membawanya kembali ke tempat ini.
Saat ia yakin waktunya tepat, Gus Afif perlahan menyusup mendekati Cinta. “Mau permen, dek? Lollipop rasa stroberi,” suaranya pelan, hampir berbisik.