Angin siang berembus pelan ketika Gus Afif berjalan menuju sebuah konter kecil di dekat kampus. Ia mengenakan kemeja kasual dan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Tak ada yang aneh pada penampilannya. Orang-orang akan mengiranya sekadar pembeli yang hendak mengganti telepon genggam, sebab tak ada satu pun tanda bahwa lelaki itu sedang membawa kecemasan yang, sejak beberapa hari terakhir, tak pernah benar-benarnmeninggalkannya.
Penjaga konter menyapanya dengan ramah. "Mau cari HP apa, Mas?"
"Gros dua jutaan ada?" tanya Gus Afif. "Saya cuma lihat-lihat."
Penjaga itu mengeluarkan beberapa kotak dari etalase. Sementara matanya tertuju pada barang-barang itu, pandangan Gus Afif diam-diam berkeliling ruangan. Sebuah kamera menempel di sudut langit-langit, menghadap kasir. Satu lagi berada di luar, mengawasi trotoar. Di bawah meja, sebuah CPU berdiri di antara gulungan kabel yang kusut. Barangkali di sanalah semua data pelanggan pernah dipindahkan, pikirnya. Kalau telepon genggamnya benar-benar diperiksa di tempat itu, mungkin salinannya masih tersimpan.
"RAM-nya berapa?" tanyanya.
"Empat giga."
Gus Afif mengangguk, lalu mengembalikan telepon itu. "Saya pikir-pikir dulu. Besok mungkin saya datang lagi."
Ia meninggalkan konter tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Baru setelah beberapa puluh meter berjalan, napasnya terasa lebih longgar. Namun pikirannya justru semakin sesak oleh kemungkinan-kemungkinan yang tak dapat dibuktikan: file yang tersalin, seseorang yang membukanya, lalu semuanya menyebar kepada orang yang tak semestinya.
Malam turun bersama gerimis yang tipis. Jalan di sekitar kampus mulai lengang. Pertokoan menutup pintunya satu demi satu, menyisakan cahaya redup yang merembes dari celah rolling door konter itu. Gus Afif berdiri beberapa meter jauhnya, mengenakan hoodie hitam, masker, dan sarung tangan tipis. Siang tadi ia telah memastikan letak kamera pengawas. Kini ia memastikan penjaga konter belum benar-benar pulang dari ruangan kerjanya.
Dari balik pintu terdengar bunyi kursi bergeser. Sudah pasti seseorang masih berada di dalam.
Gus Afif membuka tas kecil di punggungnya. Sebotol bensin berada di sana, dingin oleh udara malam. Ia menuangkannya perlahan ke celah rolling door yang tak tertutup rapat. Cairan itu merembes masuk, mengalir di lantai, mencari tempat-tempat rendah sebagaimana air mencari muaranya sendiri. Bau bensin segera memenuhi udara.
Dari dalam kembali terdengar langkah kaki. Gus Afif menunggu sampai botol itu kosong, lalu mundur dua langkah.
Jalanan begitu sunyi sehingga bunyi korek api yang menyala terdengar lebih keras daripada seharusnya. Nyala kecil itu bergoyang sebentar di ujung jarinya. Tak boleh ada yang tahu, Gus Afif memastikan itu. Api dijatuhkannya.