Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #15

Bab 14

Lampu klub malam itu redup, asap rokok bergelayut di antara cahaya yang berwarna-warni, bercampur dengan bau parfum murah dan keringat orang-orang yang datang sejak sore. Di sebuah kamar sempit di lantai dua, Ratna duduk di tepi ranjang, merapikan pakaiannya setelah seorang lelaki tambun keluar lebih dulu. Musik dari bawah terdengar sampai ke sini, berdentam-dentam melalui dinding yang tipis.

Ia duduk di depan cermin kecil yang tergantung miring di dekat lampu neon. Wajahnya masih seperti wajahnya sendiri, hanya tampak lebih tua daripada yang ia ingat. Ia menyisir rambut dengan jari, lalu berdiri ketika suara ketukan terdengar dari luar.

Lelaki tambun tadi telah menunggunya di koridor. Namanya Bagas, kira-kira lima puluh tahun, dengan kemeja yang belum dikancingkan sempurna. Ia berjalan di belakang Ratna sambil membenahi celananya, kemudian lenyap di antara orang-orang yang bergerak mengikuti irama musik.

Di ujung koridor, Raymon berdiri. Ia kelihatan seperti orang yang tersesat di tempat semacam itu, dengan kedua tangan masuk ke saku celana dan mata yang tak tahu harus memandang ke mana.

“Pulang, Mbak.”

Ratna berhenti. Untuk beberapa saat ia tidak berkata apa-apa. Kemudian tangannya yang tadi memegang lengan Bagas terlepas begitu saja.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Mas Wage nyariin. Dari kemarin.”

Ratna memandangnya. Nama itu telah lama tidak disebut kepadanya dengan cara seperti itu. Wage. Suaminya.

“Udah sebulan, Mbak,” kata Raymon. “Nggak ada kabar.”

Ratna memalingkan wajah.

“Mas Wage bilang Samsul juga belum dapat kiriman.”

Kali ini ia tidak segera menjawab.

“Suruh dia urus hidupnya sendiri,” kata Ratna.

“Dia masih anak-anak.”

Ratna tertawa kecil. Bukan lantaran mendengar sesuatu yang lucu.

Lihat selengkapnya