Kabut pagi masih menggantung rendah di atas sawah. Masjid tua di tepi jalan kampung berdiri dengan cat yang mulai mengelupas, pintunya terbuka, dan halaman yang masih basah oleh embun. Dari kejauhan terdengar ayam berkokok, disusul suara sepeda motor yang sesekali melintas. Pagi berjalan seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.
Samsul duduk di teras masjid itu. Masih menahan sakit akibat cambukan rotan dari tangan kejam Gus Afif. Ia duduk membungkuk, kedua tangan di antara lutut, seperti orang yang sedang menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.
Azan Subuh telah lama selesai. Orang-orang yang berdoa di masjid itu sudah pulang satu persatu. Hanya beberapa sandal bekas yang masih berserakan di dekat tempat wudu, dan Samsul yang belum tahu hendak pergi ke mana.
Sesekali tangannya menyentuh pinggangnya. Ia meringis kesakitan.
Dari saku celananya, ia mengeluarkan ponsel dengan layar retak. Benda itu sudah lama tidak berbunyi. Memorinya penuh oleh aplikasi game yang sebagian besar tidak lagi dimainkan Samsul, tetapi belum sempat juga dihapusnya.
Ia membuka daftar kontak. Jempolnya berhenti pada satu nama: Paman Raymon. Samsul menekan menu panggil. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum diangkat.
“Halo? Ada apa, Sul?” Suara Raymon terdengar terburu-buru, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu.
Samsul menarik napas. “Maaf Man. Aku belum dapat kiriman sampai sekarang. Bisa pinjam duit, Man?”
Raymon menyaut dari seberang. “Ya ampun. Bapak Ibumu memang kurang ajar ya!” Ia terdengar marah.
Samsul baru hendak menjawab ketika dari seberang terdengar suara perempuan. “Bang, bank tongol datang tuh. Memang setoran kemarin belum ditransfer?” Mungkin itu suara Lastri, istrinya Reymon.
Samsul terdiam. Dari suara perempuan itu, ia tahu pamannya barangkali sedang punya urusan sendiri
“Bentar, bentar,” kata Raymon. Suaranya menjauh.