Pagi di tepi sungai masih basah dan dingin. Kabut menggantung rendah di atas air, sementara ilalang di sepanjang bantaran bergerak pelan ditiup angin. Samsul berjalan dengan karung goni di pundaknya. Isinya belum banyak, tetapi cukup membuat bahunya pegal.
Di antara rerumputan, matanya menangkap sesuatu yang berkilat. Sebuah cutter. Ia membungkuk dan mengambilnya. Benda itu masih bersih, belum berkarat. Samsul membuka sedikit mata pisaunya, lalu menutupnya kembali. Tidak ada alasan khusus untuk membawanya. Ia hanya menyelipkannya ke saku celana, seperti ia memasukkan botol plastik ke dalam karung.
Tak lama kemudian terdengar sirene dari arah tikungan sungai. Samsul menoleh. Di kejauhan tampak kerumunan orang. Sebuah ambulans berhenti di pinggir jalan. Beberapa polisi memasang garis pembatas, sementara warga berdiri di belakangnya, saling bertanya tentang apa yang terjadi.
Samsul meninggalkan karungnya di bawah pohon dan berjalan mendekat. Agus ada di sana. Samsul pernah melihat lelaki itu beberapa kali di depan sekolahnya, tengah mendorong grobak somaynya.
Lelaki itu menangis sambil memeluk Cinta yang tubuhnya gemetar. Beberapa petugas membawa sebuah kantung jenazah dari tepi sungai. Ketika melewati kerumunan, Samsul sempat melihat ujung rambut Dini sebelum tubuh itu dimasukkan ke dalam ambulans.
Orang-orang mulai berbisik. Ada yang merekam dengan ponsel. Seorang wartawan berdiri di dekat polisi, berbicara ke arah kamera dengan wajah yang dibuat seserius mungkin.
Samsul tidak ikut mendekat. Ia berdiri di luar kerumunan, membiarkan orang-orang berdesakan di belakang garis polisi. Dari sana ia melihat Agus masih menangis, sementara beberapa petugas sibuk mengangkat tubuh Dini ke dalam ambulans.
Ketika hendak pergi, matanya jatuh pada ilalang di belakang garis pembatas. Ada sesuatu yang tersangkut di sana. Kain berwarna putih.
Mula-mula Samsul mengira kain bekas. Ia sudah terbiasa melihat macam-macam sampah tersangkut di bantaran sungai. Tetapi ketika angin meniupnya, tampak ada kerah dan beberapa kancing. Itu adalah kemeja. Ia mengamatinya lagi. Ia mengenal kemeja itu.
Samsul berdiri lebih lama. Kemeja itu pernah dilihatnya beberapa kali pada tubuh Gus Afif. Ia sangat yakin. Kalaupun itu hanya perasangkanya, persetan itu. Ia sudah kadung dendam pada sosok yang dianggap terhormat itu. Ia kini bis mengaitkan hal-hal buruk pada diri Gus Afif. Lagi-lagi jika itu hanya perasangkanya sekalipun. Ia ingat betul. Kemeja putih dengan kancing yang sama, biasa dipakai ketika Gus Afif mengajar di surau.