Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #18

Bab 17

Ruangan dalam pondok tampak sepi. Lampu di dekat pintu menyala temaram, menerangi tikar dan beberapa kitab kuning yang tertata rapi di rak buku. Dari luar terdengar suara angin yang sesekali menggesek daun, sementara Gus Afif rebahan sambil menggulir-gulir layar telepon genggamnya. Ia tersenyum tipis melihat beberapa unggahan di Instagram, tenang seperti orang yang tidak sedang dikejar persoalan apa pun. Hingga sebuah pemberitahuan masuk dan membuat jarinya berhenti bergerak. Pesan langsung dari Samsul.

Ia membukanya. Sebuah video terlampir di sana. Gus Afif menatap layar beberapa saat, kemudian menekan tombol putar tanpa banyak curiga. Suara perempuan terdengar lirih dari pengeras suara, hampir tenggelam oleh dengung kipas dan detak jam dinding. “Ih, pelan-pelan, Gus...” Suara itu membuat senyumnya hilang. Ia mengenalinya. Sesaat kemudian terdengar suara Gus Afif sendiri. Tangannya mendadak kaku. Video itu masih berjalan, tetapi ia tidak lagi benar-benar melihat gambar di layar. Wajahnya perlahan pucat dan napasnya mulai berat.

Ia menghentikan video, lalu memandang pintu kamar. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya lorong pondok yang lengang. Gus Afif kembali melihat telepon genggamnya ketika sebuah pesan masuk.

“???”

Beberapa saat kemudian balasan Samsul muncul. “Saya tunggu di jembatan dekat masjid. Kalau nggak datang, saya sebarkan semuanya.”

Gus Afif membaca kalimat itu berkali-kali. Jempolnya bergerak pelan sebelum mengetik, “Berapa?” Balasan Samsul datang tidak lama kemudian. “Terserah Gus. Menurut Gus, berapa harga setiap aibmu?”

Gus Afif meletakkan telepon genggam di samping tubuhnya. Ia duduk di tepi tikar, kedua tangannya bertumpu di lutut. Ia merasa kamar yang selama ini memberinya rasa aman menjadi terlalu sempit. Ia teringat video yang baru saja dilihatnya, kemudian teringat wajah Samsul ketika diusir dari pondok. Anak itu memang terlihat bodoh waktu terakhir kali ia menatap wajahnya, pikirnya, tetapi kali ini ia membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada wajah polosnya itu.

Ia bangkit, mengambil jaket, lalu memasukkan telepon genggam ke saku. Hujan mulai turun ketika ia keluar dari kamar. Mula-mula hanya gerimis tipis, kemudian semakin rapat ketika motor melaju meninggalkan pondok menuju jembatan.

Samsul sudah menunggu di sana. Ia berdiri di tepi jembatan dengan pakaian yang masih sedikit basah, memandang sungai yang hitam di bawahnya. Ketika suara motor mendekat, ia menoleh. Gus Afif menghentikan motornya beberapa meter dari tempat Samsul berdiri, lalu turun dan berjalan mendekat dengan langkah yang ditahan-tahan.

“Sul.”

“Berhenti di situ.”

Gus Afif menghentikan langkahnya. Samsul mengangkat telepon genggamnya dan memperlihatkan layar. Sebuah unggahan Instagram terbuka di sana, lengkap dengan video yang tadi dikirimkannya. Wajah Gus Afif terlihat jelas di dalam gambar, cukup jelas untuk membuat siapa pun tahu siapa orang di dalamnya.

“Mana tebusannya?” tanya Samsul.

“Dengar dulu,” jawab Gus Afif. “Kita bisa bicara baik-baik.”

“Mana uangnya?”

Gus Afif menarik napas. Hujan mulai membasahi rambut dan jaketnya. “Kamu masih murid saya, Sul. Saya nggak mau kamu jatuh lebih jauh. Saya juga nggak mau masalah ini menghancurkan kita berdua.”

Samsul tersenyum kecil, tetapi tidak ada kegembiraan di sana. “Masih ingat saya murid Gus?”

Gus Afif diam.

“Waktu Gus sama Adam ngusir saya, saya bukan murid lagi, kan?”

“Itu bukan maksud saya.”

“Lalu apa?”

Gus Afif memandang layar telepon di tangan Samsul. “Kamu nggak tahu apa yang terjadi kalau video itu tersebar. Banyak orang yang akan hancur.”

Lihat selengkapnya