Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #19

Bab 18

Gus Afif membuka matanya perlahan. Pandangannya masih buram, hanya cahaya putih lampu rumah sakit yang tampak menyilaukan dari atas. Ia mengerjap beberapa kali sebelum mulai mengenali ruangan di sekelilingnya. Bau obat dan antiseptik memenuhi udara, menusuk hidungnya dengan aroma yang asing. Dari suatu tempat terdengar bunyi alat medis yang berdetak teratur, seakan-akan mengingatkan bahwa waktu masih berjalan meskipun ia sendiri tidak tahu sudah berapa lama terbaring di sana.

Seseorang menemukannya menjelang subuh — seorang warga yang hendak ke sawah, tersentak melihat tubuh tergeletak di tepi parit, masih bernapas meski lemah. Panggilan darurat itulah yang membawanya ke rumah sakit, dan tak lama kemudian ke tangan polisi yang ditugaskan.

Sebuah selang kecil terpasang di hidungnya. Ia mencoba menarik napas lebih dalam, tetapi dadanya terasa berat. Ketika tangannya bergerak, terdengar bunyi besi beradu. Pergelangan tangan kanannya terborgol pada sisi ranjang. Gus Afif menatap borgol itu beberapa saat. Besi yang dingin dan keras itu membuatnya terdiam, sebab untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa dirinya tidak sedang berada di tempat yang bisa ia tinggalkan sesuka hati.

Ia menggerakkan kepala ke arah jendela. Dari balik kaca, tampak Kyai Munthar sedang berbicara dengan seorang polisi. Keduanya berdiri tidak jauh dari pintu, sesekali menoleh ke arah ruangan. Gus Afif tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi dari wajah mereka ia tahu perkara itu belum selesai.

Tenggorokannya terasa kering. Ia mencoba menelan ludah, lalu kembali memandangi borgol di tangannya.

Beberapa hari kemudian, Gus Afif digiring ke ruang sidang. Ruangan sederhana itu sudah penuh sesak. Wartawan berdesak-desakan di sudut, kamera menyorot dari berbagai arah, meskipun siaran langsung dilarang. Aktivis perempuan, santri-santri yang menjadi saksi, dan beberapa orang tua korban duduk di bangku pengunjung, wajah mereka menyimpan marah, sedih, juga lega.

Gus Afif duduk di kursi terdakwa, mengenakan baju tahanan berwarna oranye yang tampak mencolok di tubuhnya yang semakin kurus. Wajahnya pucat, rambutnya lebih tipis dari biasanya, sementara kedua tangannya terborgol di hadapan dada. Sebelumnya, ia terbiasa melihat orang-orang memandangnya sebagai sosok terhormat. Kini, untuk sekadar mengangkat kepala pun ia seperti kehilangan keberanian.

Hakim Ketua, seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun, membuka sidang dengan suara datar, tetapi penuh wibawa. “Saudara Muhammad Afif bin Munthar, Anda didakwa melakukan tindak pelecehan seksual terhadap santriwati serta penyalahgunaan kekuasaan dalam lembaga pendidikan. Apakah Anda memahami dakwaan ini?”

Gus Afif mengangguk kecil. “Saya... paham, Yang Mulia,” jawabnya lirih.

Jaksa Penuntut Umum kemudian berdiri. Seorang perempuan muda dengan setumpuk berkas dan sebuah flashdisk di tangannya. Ia membacakan bukti-bukti yang telah dikumpulkan: rekaman, percakapan, serta kesaksian lima korban. Perbuatan terdakwa dilakukan berulang kali selama empat tahun. Jaksa menutup pembacaan tuntutannya dengan permintaan hukuman dua puluh tahun penjara.

Kepala Gus Afif semakin tertunduk. Setiap kalimat yang keluar dari mulut jaksa terasa seperti palu yang dijatuhkan berkali-kali ke atas kepalanya. Tidak ada lagi pintu untuk melarikan diri, tidak ada celah untuk mengelak, apalagi menghakimi yang dirasa mengancam nama baiknya.

Di bangku pengunjung, seorang ibu korban menangis pecah. Tangisnya mula-mula tertahan, kemudian berubah menjadi isak yang membuat beberapa orang menoleh. Desis, geram, dan suara lirih memenuhi ruangan, seolah semua orang di sana datang membawa luka masing-masing.

Gus Afif tetap menunduk. Ia berada di tempat di mana nama, kedudukan, dan gelar tidak lagi dapat menyamarkan sisi gelapnya.

Sidang selesai, dan di halaman pengadilan kegaduhan segera pecah. Wartawan mengerubungi tim kuasa hukum dan jaksa, saling berebut mendekatkan mikrofon, sementara kamera terus diarahkan kepada siapa saja yang dianggap memiliki sesuatu untuk dikatakan. Di antara kerumunan itu beberapa aktivis perempuan menggelar konferensi pers dadakan dengan membawa spanduk bertuliskan HENTIKAN KEKERASAN DI PESANTREN! MUSNAHKAN PREDATOR DI PESANTREN!, yang berkibar-kibar diterpa angin siang.

Lihat selengkapnya