Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #20

Bab 19


Malam turun pelan di rumah Agus. Lampu ruang tamu menyala redup, sementara bau kopi yang telah dingin bercampur dengan tanah basah dari halaman yang baru diguyur hujan sore. Di dinding, dua foto Dini masih tergantung, menjadi beberapa kenangan yang tersisa sejak perempuan itu ditemukan tak bernyawa di sungai dengan tengkorak kepalanya yang hancur.

Agus duduk membungkuk di kursi kayu, tangannya gemetar memegang cangkir yang sejak tadi tak lagi disentuh. Semenjak jenazah Dini ditemukan, hidupnya seperti berhenti di tempat. Banyak suara telah didengarnya, dari polisi, tetangga, hingga orang-orang yang datang membawa doa, tetapi tak satu pun mampu menyentuh kesedihan yang bersarang jauh di dalam dadanya.

Ketukan pelan terdengar dari pintu. Agus menoleh, kemudian bangkit dan membukanya tanpa bertanya siapa yang datang. Seorang pemuda berdiri di ambang pintu, berpakaian sederhana dengan tas selempang kusam menggantung di bahunya. Wajahnya tenang, nyaris sopan, tetapi matanya menatap lurus kepada Agus. Pemuda itu adalah Samsul, yang belakangan ini diam-diam mencari kediaman Agus disambi memulung sampah untuk menyambung hidup.

Agus memandanginya beberapa saat, seperti hendak memastikan bahwa orang di hadapannya bukan sekadar bayangan dari pikirannya yang sedang lelah.

“Iya?” tanyanya singkat. Suaranya terdengar serak.

“Saya... maaf, Pak,” kata Samsul. Ia mengusap tengkuk sebentar, lalu memperkenalkan diri. “Nama saya Samsul.”

Agus mengangguk tipis. Tangannya masih menggenggam daun pintu dan belum berniat membukanya lebih lebar. “Ada perlu apa?”

Samsul menundukkan pandangan, sejenak mencari kata-kata yang tepat. “Kalau nggak penting, saya nggak akan datang malam-malam begini.” Ia berhenti sebentar, lalu berkata lebih pelan, “Ini soal Dini.”

Rahang Agus mengeras dan tangan yang menggenggam daun pintu seketika menegang. “Kamu siapa?” tanyanya lagi, kali ini lebih waspada.

“Saya tahu Bapak baru kehilangan istri tercinta,” jawab Samsul. “Istri Bapak, Dini mati bukan karena kecelakaan.”

Agus menghela napas panjang. Ia memandang pemuda itu dengan mata yang mulai dipenuhi kecurigaan. “Iyam saya tahu,” katanya getir. “Lalu, apa urusanmu?”

“Saya tahu ada yang nggak beres dengan kematian istri Bapak. Saya tahu siapa yang barangkali membunuh Dini. Saya nggak cerita ke siapa-siapa. Saya datang ke sini untuk memberi tahu Bapak.”

Agus masih diam. Dari halaman terdengar suara jangkrik bersahutan, sementara lampu teras berkedip beberapa kali diterpa angin malam. Mereka berdiri berhadapan di ambang pintu, sama-sama tak berkata apa-apa, seolah nama Dini telah cukup untuk membuka sebuah perkara yang selama ini sengaja ditutup rapat.

Agus akhirnya membuka pintu lebih lebar, tetapi tidak mempersilakan dengan kata-kata. Ia hanya berbalik dan masuk ke dalam rumah. Itu sudah cukup bagi Samsul. Pemuda itu melangkah masuk dengan hati-hati, pandangannya sempat jatuh pada dua foto Dini yang tergantung di dinding, lalu segera dialihkannya. Ia tidak ingin menatap terlalu lama, khawatir dianggap lancang di rumah orang yang sedang berduka.

Samsul tidak duduk. Ia berdiri beberapa langkah dari Agus, membiarkan jarak tetap terbentang di antara mereka. Baginya, jarak semacam itu lebih mudah untuk memulai pembicaraan, cukup dekat untuk didengar, tetapi tidak membuat orang merasa terdesak. Ia pernah mengamati cara seperti itu dari orang yang sama yang kini sedang ia buru. Datang dengan tenang, tanpa tekanan dan tanpa suara tinggi, sampai orang lain merasa aman untuk membuka diri. “Saya turut berduka,” ucapnya pelan.

Agus tidak menjawab. Tatapannya kosong, menembus tubuh Samsul.

Lihat selengkapnya