Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #21

Bab 20

Malam itu Pondok Pesantren At-Taubah berdiri dalam kesunyian, bangunan-bangunan kayunya gelap, jendela-jendela tertutup rapat, seolah seluruh kompleks telah lama terlelap dan tak Sudi diganggu. Hanya beberapa lampu yang masih menyala, cahayanya redup jatuh ke tanah yang lembap.

Agus berjalan mengikuti Samsul, melewati jalan kecil di antara asrama dan bangunan-bangunan tua. Ia tak mengenal tempat itu, tak tahu mana surau, ruang ndalem, atau kamar para santri. Segalanya terasa asing baginya. Yang ia tahu, istrinya telah mati, dan kebenaran tentang kematiannya membawa mereka ke tempat yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.

“Orang itu namanya Adam,” kata Samsul tanpa menoleh.

Agus mengangguk pelan. Nama itu tak berarti apa-apa baginya.

“Pengurus lama. Santri paling loyal. Yang paling percaya pada Gus Afif.”

Mereka berhenti di balik sebuah bangunan kecil dekat gerbang samping. Lampu di dalamnya masih menyala. Dari balik kaca buram, tampak bayangan seorang lelaki yang sedang duduk, sesekali bergerak seperti hendak mengambil sesuatu.

“Dia yang jaga ketertiban pondok,” ujar Samsul. “Bagian keamanan juga.”

Agus menelan ludah. “Saya nggak kenal.”

“Iya.” Samsul menoleh kepadanya, wajahnya tenang. “Justru itu.”

Angin membawa bau pasir dan batu bata dari halaman belakang. Dari kejauhan terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan, sementara di dalam bangunan itu lelaki bernama Adam masih duduk tanpa mengetahui ada dua orang yang sedang mengawasinya.

“Kalau dia masih hidup,” kata Samsul, “malam ini nggak akan pernah selesai.”

Agus meremas kedua tangannya. Dadanya terasa sempit. Banyak yang ingin ia tanyakan, tetapi tak satu pun keluar dari mulutnya. Ia mulai mengerti ke mana pembicaraan itu hendak dibawa, dan pengertian tersebut justru membuat langkahnya terasa berat.

“Saya cuma perlu Bapak menangani dia dulu,” lanjut Samsul. “Saya nggak bisa terlihat di hadapannya. Dia orang yang pernah mengusir saya dari tempat munafik ini.”

Agus kembali melihat ke balik kaca. Lelaki itu masih duduk membelakangi pintu, sama sekali tak waspada. Barangkali ia sedang memikirkan hal lain, atau mungkin sekadar menunggu waktu jaga berakhir.

“Dia orang baik?” tanya Agus lirih.

Samsul diam sejenak, kemudian tersenyum tipis. “Dia setia. Baik atau tidak, dia tangan kanannya Gus Afif. Kalau Gus Afif berlaku buruk, dia orang pertama yang akan mengikutinya.”

Agus memandangnya. Jawaban itu tak menerangkan apa-apa, tetapi justru dari situlah ia mengerti. Setia kepada siapa, dan setia untuk apa, barangkali tak perlu lagi ditanyakan.

Langkah Agus terasa berat ketika ia mendekat. Setiap pijakan seperti menariknya menjauh dari rumah kecilnya, dari foto-foto di dinding, dari suara Cinta memanggil. Di kepalanya terbayang wajah Dini ketika tersenyum tipis, seolah bertanya tanpa suara: sampai sejauh mana kamu sanggup melawan?

Pintu gerbang depan terbuka pelan. Lampu di dalamnya menyala redup. Adam menoleh dari kursinya. Wajahnya masih muda, lebih muda dari yang Agus bayangkan. Ada kelelahan di matanya, tetapi juga ketenangan seseorang yang percaya sedang menjaga tempat yang benar.

Lihat selengkapnya