Matahari perlahan naik dari balik bukit dan cahayanya memantul pada sisa asap yang merayap rendah di antara bangunan-bangunan pondok. Dari kejauhan, Pondok Pesantren At-Taubah tampak seperti bangkai besar yang belum sepenuhnya dingin, dengan surau yang tinggal rangka, mimbar yang runtuh separuh, rak-rak kitab yang menjadi abu dan lantai yang hitam serta retak-retak, masih mengeluarkan uap tipis setiap kali diinjak petugas pemadam. Di halaman, bangku-bangku panjang patah berserakan dan tiang bendera rebah seperti tulang tua, sementara pintu-pintu kamar santri hangus pada ambangnya, sebagian roboh ke dalam, menyisakan ruang-ruang kosong yang beberapa jam sebelumnya masih dihuni manusia.
Orang-orang berdatangan sebelum polisi menutup garis pembatas, warga kampung, beberapa santri yang selamat, juga pedagang kecil yang biasa lewat menjelang subuh, semuanya berhenti pada jarak yang dianggap aman dan memandang ke dalam tanpa banyak bicara. Tidak ada sorak, tidak pula ratap yang segera pecah, hanya suara langkah petugas, derit kendaraan, dan percakapan yang ditahan-tahan, seolah setiap orang sedang menunggu pikirannya sendiri menerima kenyataan bahwa tempat yang selama ini mereka kenal telah berubah bentuk dalam satu malam. Nama-nama mulai disebut dari mulut ke mulut, bukan di mimbar dan bukan pula dari daftar hadir, melainkan dari bibir-bibir yang gemetar, disertai pertanyaan tentang siapa yang sudah ditemukan dan siapa yang masih belum diketahui keberadaannya.
Nyai Rohmah ditemukan di ruang ndalem. Tubuhnya sudah sulit dikenali seperti sebelumnya, tetapi cincin kecil di jarinya, hadiah pernikahan yang selalu dipakainya, membuat orang-orang yakin bahwa perempuan yang kerap memberikan kajian subuh kepada murid-muridnya, yang suaranya lembut namun tegas dan kerap mengingatkan santri dan santriwatinya agar senantiasa untuk terus belajar mencari ilmu, kini telah meninggal di tempat itu. Kabar tersebut membuat beberapa orang menundukkan kepala, sementara yang lain hanya diam karena tidak tahu harus mengatakan apa.
Kyai Munthar selamat karena sedang berada di luar kota menghadiri sebuah undangan lama yang tidak pernah ia bayangkan kelak menjadi alasan mengapa dirinya masih hidup. Ketika kabar kebakaran sampai kepadanya, wajahnya pucat dan tangannya gemetar memegang telepon. Ia tidak banyak bertanya, seolah ada sesuatu yang lebih besar daripada kata-kata sedang menahannya, hanya satu pertanyaan yang keluar berulang-ulang seperti doa yang salah alamat: “ nasib keluarga dan murid-muridnya..?”
Jawabannya datang terpotong-potong. Beberapa santri ditemukan telah meninggal dan jumlah pastinya belum berani disebutkan karena petugas masih menghitung, masih menyingkap sisa bangunan, masih mencocokkan serpihan pakaian dengan ingatan orang tua yang datang mencari anaknya. Beberapa keluarga jatuh terduduk ketika nama anak mereka disebut, sebagian menolak percaya dan terus bertanya apakah petugas tidak mungkin keliru, sementara sebagian lainnya hanya memeluk siapa saja yang kebetulan berada di dekat mereka.
Di antara nama-nama itu terdapat Yazid dan Randu. Yazid ditemukan di kamar mandi, badannya setengah gosong, hampir tidak dikenali. Randu diperkirakan hangus di kamar santri, bersama dengan korban-korban lain.
Seseorang kemudian bertanya tentang Aji, dan seorang santri yang selamat menjawab bahwa anak itu sudah lama tidak berada di pondok. Sejak kasus pelecehan seksual Gus Afif terbongkar, Aji memang tidak pernah kembali. Ia pergi tanpa pamit, membawa dirinya ke tempat yang tidak diketahui siapa pun, dan namanya kemudian hanya dicatat sebagai alumni.
Bangunan kecil itu berdiri agak terpisah dari bagian pesantren yang paling parah terbakar. Kayunya menghitam pada beberapa sisi, tetapi tiang-tiang dan dinding utamanya masih berdiri, seolah api hanya lewat di sekelilingnya tanpa benar-benar berniat mengambilnya. Di dalam bangunan itulah tubuh Adam ditemukan, masih utuh, tidak tersentuh api, dengan wajah pucat dan kedua mata terpejam, sementara darah yang telah mengering di lantai membentuk genangan dan garis-garis yang segera membuat orang mengerti bahwa kematian itu tidak terjadi karena kebakaran. Tubuhnya berada dalam keadaan tenang, hampir seperti orang yang sedang tidur, hanya saja ketenangan semacam itu terasa mengerikan ketika seseorang melihat bekas luka dan darah yang mengelilinginya.