Kabut tipis masih bergantung di antara batang-batang jagung ketika Agus duduk di bangku kayu di teras rumahnya. Rumah itu berdiri sendiri di tengah kebun, sebuah rumah sederhana yang letaknya seperti sengaja dijauhkan dari keramaian. Jalan tanah menuju ke sana tidak banyak dilalui orang, kecuali mereka yang memang mengetahui alamatnya. Tetangga terdekat pun tinggal cukup jauh, terhalang rumpun pisang, parit kecil, dan kebun jagung yang pada pagi hari masih basah oleh embun.
Daun-daun jagung bergesekan pelan diterpa angin. Bunyinya berulang-ulang, seperti bisikan yang tidak kunjung selesai.
Di samping teras, panci somay masih terletak di atas tungku. Api belum dinyalakan. Gerobak yang biasa didorong Agus setiap pagi terparkir di bawah pohon jambu, dengan roda sebelah kiri yang sejak beberapa hari lalu mulai oleng. Mestinya pagi itu ia sudah berangkat. Mestinya ia sudah berada di jalan, menyapa beberapa orang yang dikenalnya, kemudian berhenti di tempat biasa sebelum matahari meninggi.
Tetapi pagi itu tubuhnya seperti tidak mau diajak pergi. Ia duduk saja, memandangi kebun, sementara waktu berjalan sebagaimana biasanya, tanpa peduli pada orang yang sedang menunggunya.
Dari dalam rumah terdengar suara Cinta bermain di atas tikar. Boneka kainnya tergeletak miring di samping kaki kecilnya. Sesekali anak itu menengok kepada ayahnya, barangkali menunggu kebiasaan yang selama ini tidak pernah berubah: ayahnya berdiri, mengenakan jaket, mendorong gerobak keluar halaman, kemudian pergi menjajakan somay.
Tiba-tiba terdengar suara mesin.
Agus mengangkat kepala.
Bukan suara motor tetangga. Tidak ada tetangga yang biasa melewati jalan itu sepagi ini. Suara tersebut semakin mendekat, lalu berhenti di ujung halaman. Dari balik semak-semak tampak sebuah mobil, dan dua orang turun darinya.
Mereka berjalan menuju rumah. Ketukan terdengar di pintu. Tidak keras, tetapi juga tidak seperti ketukan orang yang datang bertamu. Ada keraguan di dalamnya, seolah orang di luar tahu bahwa rumah itu bukan tempat yang biasa didatangi banyak orang.
Agus bangkit dari bangku. Dadanya terasa turun. Ia tidak lagi terkejut. Entah sejak kapan ia sudah menunggu kedatangan semacam ini, dan ketika akhirnya datang, yang terasa bukanlah kejutan, melainkan sesuatu yang sejak semula telah diketahui akan tiba.
Ia membuka pintu. Dua orang polisi berdiri di hadapannya. Sepatu mereka kotor oleh jalan setapak, dan seragam yang mereka kenakan tampak asing di antara hijau daun jagung dan dinding rumah yang sederhana.
“Selamat pagi, benar ini dengan Pak Agus?” tanya salah seorang dari mereka. Suaranya datar. “Kami dari kepolisian.”
Agus mengangguk.
“Kami perlu membawa Bapak ke kantor untuk dimintai keterangan mengenai kebakaran Pondok Pesantren At-Taubah.”
Agus tidak menjawab. Ia hanya memandang kedua orang itu beberapa saat, kemudian melirik ke belakang, ke arah dapur.
Cinta kemudian muncul di ambang pintu kamar. Kakinya masih telanjang, rambutnya kusut karena belum diguyur mandi pagi. Ia memandang kedua polisi itu dengan mata yang besar, belum mengerti mengapa pagi itu ayahnya tidak segera mendorong gerobak seperti biasanya.
“Ayah?” panggilnya.
Agus berjongkok dan memegang kedua bahu anak itu. “Ayah pergi sebentar, Nak.”
Suaranya terdengar biasa, meskipun sedikit bergetar. “Kami di rumah aja ya. Jangan ke mana-mana dulu. Kalau ayah belum pulang-pulang, nanti akan ada tantemu yang ke sini.”
Cinta mengangguk, lalu bertanya seperti biasa, seolah pagi itu tidak ada sesuatu yang berubah. “Ayah jualan somay?”
Agus tersenyum. “Iya.”
Senyum itu hanya sebentar dan tidak sampai ke matanya. Ia berdiri, lalu mengambil jaket tipis yang tergantung di dekat pintu. Jaket itulah yang biasa dipakainya setiap pagi ketika mendorong gerobak. Ia mengenakannya perlahan, kemudian mengancingkan bagian depan dengan tangan yang sedikit gemetar.
Sesudah itu pandangannya jatuh kepada panci somay, lalu kepada gerobak di bawah pohon jambu, dan akhirnya kepada kebun jagung yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari pemandangan rumahnya.
Dipandanginya semua itu satu per satu, agak lama, seperti orang yang hendak bepergian dan merasa perlu mengingat kembali benda-benda yang ditinggalkannya.
Polisi yang berdiri di depan pintu memberi isyarat kecil. Agus mengangguk. Ia menoleh sekali lagi kepada Cinta. Anak itu masih berdiri di ambang pintu, memandang ayahnya dengan rasa ingin tahu yang belum tercampur oleh ketakutan.
Agus melangkah keluar dari rumah itu, meninggalkan Cinta yang masih berdiri di ambang pintu. Tanah kebun yang lembap melekat pada sandal jepitnya, sementara di belakangnya terdengar suara anak itu memanggil sekali lagi, namun Agus tidak berani menoleh. Ia khawatir, apabila berhenti barang sesaat, segala yang selama ini ditahannya akan runtuh begitu saja di hadapan anaknya sendiri.
Mobil polisi kemudian bergerak perlahan meninggalkan halaman. Tiada sirene, tiada pula orang-orang yang keluar menyaksikan kepergian mereka. Hanya suara mesin yang berjalan tersendat di atas jalan tanah, diselingi gesekan daun-daun jagung yang kembali berdesir setelah kendaraan itu melewatinya. Kebun yang luas itu lekas menutup jalan di belakang mereka, seolah-olah tiada sesuatu pun pernah terjadi di sana.
Dari dalam mobil, Agus menoleh ke belakang. Rumahnya semakin kecil, lalu hilang di balik tikungan. Di sanalah Cinta tinggal seorang diri, menunggu ayahnya pulang seperti hari-hari sebelumnya, barangkali dengan keyakinan bahwa menjelang petang ayahnya akan kembali membawa sesuatu dari hasil berjualan somay. Tetapi kali ini, pikir Agus, penantian itu akan lebih panjang daripada yang sanggup dimengerti oleh anak berusia lima tahun.
Seorang polisi yang duduk di depan kemudian membuka suara. “Kami menemukan sidik jari Bapak di pos keamanan pesantren,” katanya. “Korban bernama Adam.”
Agus hanya mengangguk. Ia tidak menjawab apa-apa.
“Apakah Bapak mempunyai penasihat hukum?”