Ruang pidana itu berbau besi tua dan kertas yang lembap. Lampu neon di langit-langit bergetar pelan, cahayanya yang pucat jatuh ke lantai yang telah lama kehilangan kilap. Agus duduk di bangku terdakwa dengan tubuh sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di pangkuan. Jemarinya sesekali saling mengunci, kemudian terlepas lagi, seperti belum tahu apa yang harus diperbuatnya.
Di hadapannya, hakim membaca berkas perkara dengan suara yang datar. Terdengar istilah-istilah yang bagi Agus terasa asing: unsur kesengajaan, perencanaan, pembakaran yang menyebabkan kematian, pembunuhan. Semuanya disebut dengan begitu tertib, seolah-olah perkara yang sedang dibicarakan bukanlah hidup seseorang, melainkan sekumpulan angka dan keterangan yang telah selesai disusun.
Sesekali Agus mengangkat muka, tetapi lekas ditundukkannya kembali.
Hidupnya selama ini tidak pernah mengenal istilah-istilah semacam itu. Yang dikenalnya hanya gerobak somay, panci yang harus dicuci, uang receh hasil dagangan, dan Cinta yang setiap sore menunggunya pulang. Tetapi kini semua itu disebut dalam bahasa yang lain, bahasa hukum yang tidak banyak menyisakan tempat bagi orang seperti dirinya.
Kemudian nama istrinya disebut. Dini. Agus terdiam. Nama itu tidak disebut sebagai seorang perempuan yang pernah menjadi istrinya, melainkan sebagai bagian dari perkara, sebagai latar belakang, sebagai motif.
Agus menundukkan kepala lebih dalam. Ia ingin mengatakan bahwa semuanya bermula dari tubuh istrinya yang ditemukan di sungai, dari bau lumpur yang berhari-hari seperti masih melekat pada hidungnya, dari nasib tragis Dini dan nama Gus Afif yang mula-mula hanya beredar dari mulut ke mulut. Tetapi tak satu pun keluar. Mulutnya kering, sedangkan kata-kata yang hendak disampaikannya seperti tersangkut jauh di dalam kerongkongan.
Di sampingnya duduk seorang pembela umum yang ditunjuk negara. Orang itu beberapa kali membisikkan sesuatu, membuka berkas, lalu kembali diam. Agus tidak tahu apakah lelaki itu sungguh memahami perkara yang sedang dihadapinya atau sekadar menjalankan kewajiban sebagaimana orang menjalankan pekerjaan. Agus sendiri tidak pernah mampu membayar seorang pengacara.