Siang itu jalan utama kota kecil tersebut berubah menjadi lautan manusia. Kendaraan-kendaraan bak terbuka berjalan beriringan, sarat dengan spanduk dan pengeras suara yang tiada henti meneriakkan yel-yel politik. “NASRULLOH PRESIDEN KITA!” pekik suara-suara itu bersahut-sahutan, bercampur dengan deru knalpot, dentuman musik dari atas kendaraan, serta tepuk tangan orang-orang yang berdiri di sepanjang jalan. Wajah sang calon presiden terpampang di mana-mana, pada kain vinil yang berkibar-kibar, pada baliho yang menutupi muka ruko-ruko tua, dan pada poster-poster yang ditempel serampangan di tiang listrik. Kota yang biasanya lengang itu, untuk sehari penuh, seolah dipaksa turut bergembira.
Di antara kerumunan tersebut, Samsul berjalan dengan langkah yang tidak hendak menarik perhatian. Topi lusuh ditariknya rendah hingga menutupi rambut yang kusut, sementara masker murahan menutup sebagian wajahnya. Di tangannya tergenggam sebuah karung plastik besar berisi botol-botol bekas yang berdenting setiap kali ia melangkah. Bunyi itu kecil saja, kalah oleh pekik orang-orang dan suara kendaraan, tetapi bagi Samsul terdengar seperti sesuatu yang terus mengingatkan bahwa ia harus segera pergi.
Tatkala sampai di sebuah tiang listrik yang catnya telah mengelupas, ia berhenti. Di sana terpampang sebuah poster hitam-putih. Wajah pada poster itu membuatnya tercekat. Wajahnya sendiri. Mata yang dahulu memandang penuh harapan kini tercetak kaku di atas kertas murah. Di bawahnya tertulis dengan huruf besar: BURONAN.
Samsul memandanginya beberapa saat. Tiada yang mengetahui bahwa orang yang dicari-cari itu sedang berdiri tidak jauh dari poster tersebut, membawa karung berisi botol bekas seperti pemulung kebanyakan. Kemudian ia menarik ujung poster itu perlahan-lahan, mencabutnya dari tiang listrik, lalu memasukkannya ke dalam karung.
Ia pun berjalan kembali, menyelinap di antara orang-orang yang bersorak, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Botol-botol bekas kembali berdenting di dalam karungnya.
Pada waktu yang hampir bersamaan, di tempat lain, Gus Afif digiring memasuki lapas. Lorong yang dilaluinya sempit dan lembap, dengan dinding-dinding tinggi yang membuat cahaya lampu neon terasa pucat. Ia berjalan menundukkan kepala, sesekali mengangkat pandangan, tetapi segera menundukkannya kembali. Seorang petugas berhenti di hadapan sebuah pintu besi, lalu membukanya.
Engsel pintu itu mengeluarkan bunyi berderit.
Di dalam sel terdapat lima orang narapidana. Mereka berdiri memandang kepadanya tanpa berkata-kata. Seorang di antara mereka, bertubuh besar dengan lengan penuh tato, kemudian maju menghampiri. Ia memandang Gus Afif dari kepala sampai kaki, lalu merangkul pundaknya dengan tangan yang berat.
“Nama?”
“Afif,” jawabnya lirih.
“Pekerjaan?”
“Guru ngaji.”
Belum sempat jawaban itu berlalu, sebuah jitakan mendarat di kepalanya. Gus Afif tersentak. Pria itu tertawa kecil, sementara keempat orang lainnya mulai mendekat.
“Kok bisa masuk sini?”
Gus Afif menelan ludah. “Video... video asusila saya menyebar.”