Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #8

Bab 9

Suasana sore itu riuh dengan anak-anak sekolah yang pulang. Seragam putih abu-abu berkeliaran di trotoar, beberapa tertawa lepas, beberapa menunduk lelah. Di antara kerumunan, Aji dan Yazid berjalan beriringan keluar dari gerbang sekolah.

"Utangnya Samsul udah dibayar?" tanya Aji sambil melirik ke arah Yazid.

Yazid menggeleng pelan. "Belum. Malah kemarin nambah lagi, tiga puluh ribu."

Aji menghentikan langkahnya, menatap Yazid dengan raut tak percaya. "Lah... kenapa dikasih lagi?"

"Ya... dia bilang penting. Aku juga nggak enak nolaknya," jawab Yazid lirih, suaranya menandakan kebingungan dan sedikit frustrasi.

Aji menghela napas. Ia merasa kebiasaan Samsul tak akan berhenti kalau tidak ada yang menegur.

Langkah berat terdengar dari belakang. Samsul muncul, menepuk bahu Yazid dengan senyum dipaksakan.

"Zid... ada dua puluh ribu lagi nggak? Pinjem, ya."

Yazid terdiam, ragu-ragu. Aji menoleh cepat, mata tajamnya langsung mengunci Samsul.

"Kamu pake uang sakumu buat apa sih? Dari kemarin minjem terus, tapi belum pernah dibalikin," suara Aji lebih keras, namun tetap terkontrol, seperti jarum jam yang terus menekan.

Samsul menunduk, tatapannya jatuh ke tanah. Ada panas di wajahnya, rasa malu yang bercampur dengan rasa bersalah. Hatinya bergetar, ingin berkelit, ingin menjelaskan, tapi kata-kata serasa tersangkut di tenggorokan. Ia malu. Ia tahu Aji benar. Tapi ia tak punya cara lain untuk mengatasi masalahnya sendiri.

"Iya tahu. Yazid anaknya orang kaya. Tapi bukan dompet berjalan buatmu," lanjut Aji, nadanya lebih tajam, menembus kepanikan yang mulai menguasai Samsul.

Samsul menarik napas panjang, menelan kata-kata yang ingin ia lontarkan. "Aku cuma nanya. Nggak maksain," jawabnya getir, mencoba terdengar ringan, padahal hatinya bergejolak.

Yazid menepuk bahu Samsul, suaranya lembut tapi tegas. "Maaf, Sul. Bukan soal nggak mau bantu. Tapi Aji bener juga. Aku udah mulai bingung sendiri."

Lihat selengkapnya