Mengejar Dosa

Rifin Raditya
Chapter #17

Bab 18

Lampu klub malam itu redup, dipenuhi asap rokok dan bau parfum murah yang menusuk hidung. Di salah satu kamar kecil paling bising di lantai dua, Ratna duduk di atas ranjang sempit. Tubuhnya masih dilapisi sisa keringat pelanggan terakhir, sementara detak musik dari lantai bawah bergetar di dinding tipis kamar. Ia tidak menangis, tidak juga tersenyum—ia hanya diam, menatap pantulan dirinya di cermin kecil dekat lampu neon. Mata itu… bukan lagi mata perempuan yang dulu mencuci piring sambil bersenandung setiap pagi.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar dengan langkah tenang. Pria tambun berusia sekitar lima puluh tahun yang tadi bersamanya berjalan di belakang, masih merapikan kemejanya. Ratna menggandengnya sebentar—sekadar basa-basi—lalu melepasnya ketika mereka sampai di koridor yang dipenuhi lampu strobo.

Di tengah keramaian, ia melihat Raymon berdiri kaku. Anak itu tampak gagal menyembunyikan kegugupannya. Wajahnya pucat, sorot matanya gelisah.

“Pulang, Mbak,” katanya pelan. Tidak membentak. Tidak mengancam. Hanya suara seseorang yang sudah kehabisan cara lain.

Ratna terkejut, lalu secara refleks menarik lengannya dari genggaman Raymon. Ada rasa malu, ada rasa marah, tetapi di atas semua itu: ada rasa ingin lari.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya cepat, seakan Raymon adalah orang asing.

“Mas Wage nyariin. Dari kemarin,” jawab Raymon.

Nama itu membuat Ratna memejamkan mata sejenak. Wage. Suaminya. Laki-laki yang dulu ia pilih karena kesederhanaannya, bukan karena uangnya. Laki-laki yang dulu memetik gitar di teras rumah kontrakan sambil bernyanyi lirih untuk menenangkan malam mereka yang sepi. Laki-laki yang dulu ia cintai… sebelum hidup berubah.

Ratna menarik napas, mencoba menguatkan diri. Namun sebelum ia sempat berbicara, pria tambun itu—Bagas—menghampiri dengan nada curiga.

“Siapa dia?”

Ratna menatapnya dingin, lalu berkata, “Bukan siapa-siapa.” Dan Bagas pun pergi, menghilang dalam kerumunan.

Kini hanya Ratna dan Raymon, berdiri di antara dentuman musik yang menenggelamkan detak jantung siapa pun.

“Udah sebulan, Mbak. Nggak ada kabar. Samsul katanya belum dapat kiriman juga,” ucap Raymon.

Kata itu—Samsul—menghantam dadanya. Anak sulungnya. Bocah yang dulu berlari-lari di halaman sambil membawa pesawat kertas. Anak yang selalu menunggu kepulangannya di depan pintu setiap sore. Anak yang kini berjuang sendiri di pondok pesantren karena ia tak lagi punya keberanian untuk menemuinya.

Ratna memalingkan wajah. “Samsul? Suruh dia urus sendiri hidupnya.”

“Dia masih anak-anak, Mbak…”

Ratna menyeringai tipis, bukan karena lucu, tetapi karena hidup mengajarinya untuk tidak lembek. “Harapan nggak ngasih makan, Raymon,” katanya. “Wage itu… nafkahi aja nggak becus. Aku capek hidup pura-pura.”

Raymon diam. Ada kepedihan di wajahnya—penderitaan orang yang menyaksikan keluarga lain retak, tapi tak bisa menahan runtuhnya.

Lihat selengkapnya