Televisi di pojok warmindo terus menyala, suaranya bercampur dengan dengung kipas angin dan bunyi sendok beradu dengan mangkuk. Presenter berita berbicara dengan nada datar, seolah apa yang disampaikannya hanyalah deretan kata, bukan hidup orang lain yang sedang runtuh perlahan.
Seorang guru ngaji di Ngawi, berinisial AZ, ditangkap polisi. Dugaan pelecehan terhadap murid-muridnya. Ancaman hukuman hingga lima belas tahun penjara.
Beberapa pelanggan melirik sekilas ke layar, lalu kembali ke urusan masing-masing. Ada yang sibuk dengan ponsel. Ada yang mengunyah cepat. Ada pula yang menyimak sebentar, sebelum wajah mereka kembali kosong.
Di salah satu meja, Samsul duduk membungkuk di atas mangkuk mie kuah yang hampir kosong. Kuahnya tinggal sisa, minyak mengambang tipis. Ia menyeruput suapan terakhir tanpa benar-benar merasakan apa pun. Kepalanya masih dipenuhi bayangan sungai, ilalang, dan bau lumpur yang menempel sejak pagi.
Ia meneguk air minumnya sampai tandas. Lalu merogoh dompet lusuh dari saku celana, mengeluarkan uang receh dan beberapa lembar uang kecil—hasil seharian memulung botol plastik dan kaleng bekas di sepanjang sungai. Ia menghitungnya pelan di atas meja, memastikan jumlahnya cukup untuk membayar makan malam murah itu.
Tiba-tiba, tangannya berhenti.
Di sela lipatan dompet yang mulai sobek, terselip sebuah benda kecil.
Persegi panjang. Hitam. Ringan.
Samsul menariknya perlahan.
Kartu memori.
Ia menatapnya tanpa berkedip. Wajahnya kosong, tapi rahangnya mengeras. Ingatan itu datang begitu saja, tanpa aba-aba—siang itu, saat ponsel Gus Afif ada di tangannya. Penyimpanan penuh. File tak bisa dibuka. Ia kesal, terburu-buru, lalu memindahkan beberapa data ke kartu memori ini sebelum akhirnya menjual ponsel itu ke konter.
Waktu itu, ia tak berpikir apa-apa. Hanya soal ruang memori ponsel yang penuh. Soal uang cepat.
Ia bahkan nyaris lupa kartu kecil ini pernah ada.
Kini benda itu terasa lebih berat dari seharusnya. Seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin disentuh, tapi juga tak bisa dibuang.
Warmindo tetap ramai, tapi suara-suara di sekeliling Samsul terdengar jauh, seolah terendam air. Kartu memori itu tergeletak di telapak tangannya—saksi bisu atas kekacauan yang sudah terjadi, dan mungkin, atas sesuatu yang belum sepenuhnya selesai.
---
Pagi hari di tepi sungai terasa basah dan dingin. Kabut tipis menggantung rendah, menutupi permukaan air yang mengalir pelan. Suara gemericik berpadu dengan kicau burung dan desir angin yang menggoyangkan ilalang.
Samsul berjalan menyusuri bantaran dengan karung goni di pundaknya. Karung itu belum penuh, tapi cukup berat. Tangannya memunguti botol plastik dan kaleng bekas satu per satu, memasukkannya tanpa ekspresi. Ini rutinitas. Ini cara ia bertahan.