MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #1

TUHAN SEPERTI TIDAK ADIL

Sudah terasa lelah, terasa semakin tak berdaya menguasai relung jiwa yang hanya selalu berpasrah padaNya. Katanya, Sang Ilahi itu Maha selalu mendengar keluh kesah setiap penikmat kehidupan ini di setiap helaan nafas dunia fana ini.

Tapi mana, mana setiap untaian doa yang selalu bergulir dalam setiap kalimat teruntai di sertai alunan ayat-ayat miliknya. Seraya sirna tergerus waktu dan pupus semakin tak membuat berdaya, karena tak terjawab olehNya.

Padahal kening ini menjadi saksi selalu menyatu dengan alas dengan hati selalu memuji namaNya. Mana, mana tak terdengar bisikan apapun dariNya. Yang ada semakin hari hati terpapar resah, seraya hati ini selalu ingin menjauh dariNya, tak lagi ingin memuji dan menyebut namaNya.

Padahal lima waktu yang menjadi kewajibannya, tak sekali pernah tercentang merah, selalu tercentang biru selalu tepat waktu untuk bersujud, menguntai doa dan selalu memuji namaNya. Apa semua itu terbayarkan dengan janjiNya, kata Ia Maha segalanya menjadi tempat semua manusia untuk mengadu.

Hati kian tertepis ketidak percayakan lagi PadaNya, karena setiap doa di sertai untaian ayat-ayat suci miliknya semua itu tak pernah di dengar apalagi di jawabnya. Rasanya ingin lari pergi meninggalkannya, tidak lagi ingin menyebut namaNya, tapi terkadang hati selalu di bisiki takut akan tercela dosa.

Tak tahu semua ini akan kapan pergi berlalu, kesulitan yang sedang di hadapi begitu betah dan tidak ingin beranjak pergi. Sepertinya, sungguh Tuhan memang tidak adil baginya, padahal ia telah lama dan percaya selalu memuji namaNya. Akan tetapi, cobaan selalu datang selalu menggerus rasa kepercayaan padaNya.

Tidak hanya kali ini ia mendengar suara nikmat dan sungguh sangat merdunya suara panggilannya, suara adzan itu selalu berkumandang. Ia hanya berdiri menatap langit senja, lelaki tua itu tidak lantas bergegas mengajak dua kakinya untuk segera membasuh relung jiwa dengan air kesejukan untuk segera mengadu padaNya.

"Pak, cepat ambil wudhu," ajak istrinya pada suaminya hanya berdiri menatap langit sebentar lagi berganti gelap malam.

Suara adzan semakin berkumandang terdengar seraya nikmat menyejukan hati para penikmat dan pemuji Sang Ilahi. Namun tidak dengan Karno, seraya hatinya sudah terkunci dengan ketiak percayaan, dua kupingnya sudah tertutup tidak lagi ingin mendengar suara adzan semakin menggema memanggil, dan sedangkan dua kakinya semakin berat untuk melangkah mengajak dua tangannya untuk membasuh wajah dan sekujur tubuhnya.

"Ibu saja, sana." jawab suaminya pada istrinya yang hanya bisa menatap kesedihan kepasraan pada guratan raut wajah suaminya yang malahan ia masuk kedalam rumah.

Istrinya sejenak pelan menghela napas kesabaran, walau dua kakinya pasti mengajak jalan kearah pancuran di mana ada satu gentong berisi air untuk berwudhu. Selesai berwudhu Ratih, wanita tua berhijab, raut wajahnya terpancar senyuman walau kerutan menuanya tidak akan pernah hilang.

"Asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuuluhu. Allahummaj'alnii minat tawwabiina, waj'alnii minal mutathahhiriina," tatapannya yakin, hatinya berguman seraya segera ingin menunaikan kewajibannya.

Tersenyum ia menatap rumah sederhananya dan di belakang ia berdiri terhampar luas lautan beratap langit gelap malam hanya terdengar suara seruan riak ombak menerjang tepian pantai.

***

Lihat selengkapnya