MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #2

PANIK, GAMANG DAN GELISAH

"Selamat pagi rekan-rekan seperjuangan nelayan Indonesia! Saatnya kita tidak bisa tinggal diam! Kita harus berantas kejahatan luar biasa yang sudah merampas hak rakyat, merusak moral bangsa, dan menghambat kemakmuran! Kondisi negara kita saat ini sedang darurat. Korupsi bukan sekadar pencurian uang negara, melainkan kejahatan terhadap kemanusiaan yang memiskinkan rakyat dan menghancurkan masa depan generasi bangsa!!!" suaranya terdengar memekik kuping keluar dari toa besar seraya mengajak para masa pendemo lainnya untuk melawan dan memberantas koruspi.

Tersenyum dingin seorang lelaki berjas serba biru dongker, padahal nyali ciut takut, wajahnya panik benaknya di bisiki ketakutan. Sejenak ia menyingkap tirai jendela masih banyak masa pendemo berdiri di pelataran halaman perkantoran nyaris menerobos masuk cepat di halangi para penegak hukum yang mulai kewalahan.

"Aswan! Keluar loe! Loe harus pertanggungkan jawaban perbuatan loe! Loe udah nyengsarahin rakyat!" di tutupnya tirai jendela, salah satu masa pendemo melihat tirai jendela tersingkap dari luar.

"Pak?" __ "Akh! Kalian kenapa nggak bisa ngusir mereka!" panik cemas, raut wajahnya gelisah sontak di bentaknya dua lelaki bertubuh tegap masuk menghampiri, mungkin adjudannya ingin memberitahukan jika masa pendemo nyaris masuk kedalam kantor.

"Prank!" lemparan batu mengenai kaca pecah mengenai wajah lelaki yang sedang jadi buruan masa pendemo.

"Prank! Prank!" tidak hanya satu lemparan batu dari luar yang di lempar oleh masa pendemo. Tapi belasan bahkan puluhan batu bebas mendarat mengenai kaca sampai pecah dan merusak barang-barang dalam ruangan.

Panik menahan sakit, wajahnya memar sedikit berdarah menghindari hujan batu dari luar. "Pak, kita keluar dari sini. Ayo pak, saya lindungin," di halanginya dengan meja sebagai tameng oleh dua adjudan menyelamatkan atasannya berdiri di belakangnya.

Sedangkan lelaki yang di sinyalir sudah menyalai wewenang jebatan, di mana ia sedang di demo masa karena korupsi uang anggaran. Ia adalah Aswan, jabatannya cukup mentereng sebagai dirjen kelautan dan perimanan. Sayangnya ada anggaran untuk kesejetarahan untuk nelayan, tapi di selewengkan dan masuk kantong pribadinya.

Ruangan yang tadi begitu nyaman untuk para pemikir kotor yang akal bulusnya dengan segala dalih untuk mensejaterahkan rakyat dan selalu mengatasnamakan rakyat. Ruangan itu kini sudah hancur berantakan, semua furniture mewah tidak lagi berbentuk. Hanya pecahan kaca berserakan dengan puluhan batu berukuran sedang yang masih terlihat lemparan dari luar mendarat di lantai.

***

"Selamat pagi rekan-rekan seperjuangan nelayan Indonesia! Saatnya kita tidak tinggal diam, kita harus berantas kejahatan luar biasa yang merampas hak rakyat, merusak moral bangsa, dan menghambat kemakmuran. Kondisi negara kita saat ini sedang darurat. Korupsi bukan sekadar pencurian uang negara, melainkan kejahatan terhadap kemanusiaan yang memiskinkan rakyat dan menghancurkan masa depan generasi bangsa!!!" dua matanya tidak bergeming, tidak berkedip, hatinya resah bercampur gelisah menonton tayangan tivi kotak di atas meja kecil.

Sekali pandangannya menoleh kesamping kiri, tirai kamar bergerak seraya sedang menari bermain dengan hembusan angin kecil. Ia beranjak bangun sembari menoleh kearah pintu, pelataran halaman rumah tidak lagi terlihat terang. Sudah datang gelap malam di sertai suara adzan samar terdengar bermain dengan suara riak ombak lautan dari kejauhan.

Telunjuknya menekan satu tombol tivi tidak lagi terlihat tayangan. "Sar, Sarah bangun sudah magrib," suaranya terdengar dari dalam kamar.

Lihat selengkapnya