"Kelihatannya baik emang, tapi loe'kan nggak tahu hatinya gimana?" ujarnya sempat berhenti saat dua tangannya mengambil botol kosong di masukan kedalam krat. Kemudian telunjuk jarinya menunjuk dan mulutnya mulai menghitung botol kosong dalam krat.
"Mas Pur, isi satu krat aja deh. Sar, rokoknya sekalian nggak?" __ "Rokoknya masih komplet. Cemilan aja deh," selesai menghitung Tami menoleh pada Sarah meletakan tumpukan rokok dan perhatikan makanan kecil hanya tersisa kantong bungkusannya saja.
"Benaran nih, cuman sekrat aja?" __ "Iya mas, warung lagi sepi," tanya Pur sambil mengangkat krat berisi botol kosong di jawab gadis paling cantik dan seksi di warung remang-remang.
"Cemilannya apa aja nih?" tanya lelaki tukang nganpas sekitar warung sambil mengangkat krat berisi botol minuman dan berapa kantong cemilan.
"Sukro sama kacang yang banyakan mas," sahut Sarah melap meja dengan serbet.
Pur, lelaki berperawakan kurus bisanya nganpas makanan ringan, minuman dan rokok biasa keliling dengan mobil bak terbukanya memenuhi kebutuhan warung di sepanjang tepian tanggul laut. Jahilnya, pantantnya menyenggol pinggul Sarah melempar serbet kewajah Pur menjulurkan lidahnya.
"Sar, loe benaran jatuh cinta sama tamu? Ntar Mami loe tahu, di amuk loe," krat dan aneka kantong plastik berisi aneka cemilan, sukro dan kacang kulit di letakan di meja.
"Ini gua lagi ngomongin. Tuh, kayaknya Sarah benaran jatuh cinta. Gua takutnya cuman di janjiin doang," jawab gadis selama ini berteman baik sembari memberikan berapa lembaran uang kertas pecahan lima puluh ribu pada lelaki selama ini nganpas memenuhi kebutuhan warung remang-remang.
"Masa gua harus gini-gini aja, Tam. Gua juga harus punya tujuan hidup," pandangannya menatap lepas lautan beratap langit cerah. Sarah sudah terduduk di tanggul pembatas tepian pantai dan daratan.
"Iya gua paham. Nggak mungkin hidup tanpa tujuan, pasti ada tujuan," __ "Tin ..." sahut Tami sudah berdiri di samping sahabatnya masih terduduk menoleh pada mobil berjalan sembari melambaikan tangannya.
Dua gadis terduduk menatap lautan lepas, dua pasang kakinya menggantung nyaris terkena colekan riak ombak lautan. Dua pasang mata tersenyum lepas, seraya keduanya bebas sedang tidak menggoda lelaki hidung belang.
***
"Pak?" tanya istrinya meletakan ikan goreng baru selesai di gorengnya.
Jawabnnya hanya mengunyah, dan jemari kanannya memocel ikan goreng padahal masih panas di makannya jadi satu dengan nasi bergoyang dalam mulut dan sebentar lagi lepas landas dalam kerongkongan untuk menepati janji pada lambung yang kelaparan.