MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #4

SEBELUM TERLAMBAT

Terasa lelah dan letih sejak tadi dua pasang kaki berjalan tanpa arah, begitu juga dua pasang mata kakinya selalu terpejam takut kelilipan dengan banyaknya debu beterbangan.

Langit semakin terik dengan sengatan indung panasnya matahari seperti tidak peduli bagi siapa saja siang itu berada di luar rumah. Sinar teriknya pasti selalu menguntit kemana dua kaki melangkah jalan.

Sudah berapa kali bertanya, namun hanya terjawab tidak pasti dengan ujung telunjuk jadi tujuan langkah dua pasang kaki terus berjalan tanpa alamat jelas dan tujuan pasti.

"Udah yuk kita pulang aja, Sar. Lagian loe gimana si, masa nyari alamat tapi loe aja nggak tahu jelas alamatnya di mana," capek, haus dari tadi Tami menggerutu saja mana kepanasan.

Kali ini Sarah berdiri perhatikan sekitar, sepi sunyi terasa sekitar sungguh hanya semvatan terik sengatan matahari yamg membuatnya semakin gerah dan menghadirkan peluh.

"Katanya, ini jalannya. Jalan Kesuma Bangsa," kata Sarah di perlihatkannya secarik kertas bertulisan alamat tidak jelas pada sahabatnya yang makin gusar, raut wajahnya sudah memerah dan makeupnya terlihat luntur di permainkan peluh keringat.

"Katanya! Katanya! Alamatnya aja nggak jelas Sarah! Pulang aja yuk," gerutu lagi sembari menyeka wajahnya penuh peluh.

Gusar dan kesal karena sengatan terik matahari semakin merasuk kekepalanya. Tami bergegas jalan di kejar Sarah dari belakang sekali-kali menoleh kebelakang.

"Tam, mampir sini bentar. Gua haus," mungkin dahaga sejak tadi menagihnya.

Sarah mengajak teman warungnya sedikit tersenyum sembari menelan ludah. Sejak tadi Tami sudah menahan dahaga haus dan dua matanya langsung terperangah tidak berkedip melihat aneka minuman tertata rapi.

"Mbak, saya minum dong. Dari tadi aja Sar, mampir minum. Kalau lapar masih bisa gua tahan. Kalau haus, gua nggak kuat deh nahannya. Makasih mbak," langsung di genggamnya segelas minuman dingin dari wanita setengah baya selesai membuatnya.

Hilang sekejap rasa haus mengusir dahaganya, hampir habis hanya menyisakan es batu cepat mencair karena sengatan terik matahari. Tidak banyak kendaraan lalu-lalang yang lewat depan warung, satu dua kendaraan bermotor lewat.

Padahal hanya tersisa es batu, bibir gelaa kembali di dekatkan pada bibirnya hanya terminum sedikitnair. Lalu Tami menoleh pada teman warungnya, tatapan Sarah seraya masih berharap cemas.

Es batu di paksa masuk kedalam mulutnya dan di gigitnya. "Grug," suara es batu terdengar mencair di gigit gigi. Setelah habis es batu, gelas di letakannya. Tami menghampiri Sarah buru-buru kembali sedikit meneguk minuman dingin.

Lihat selengkapnya