MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #5

TATAPAN SINIS

Satu masalah belum beres dan belum selesai sudah tambah lagi satu masalah, tentu akan semakin membuat rasa ketidak percayaan pada Sang Ilahi pemilik semesta ini. Rasanya semakin terlalu berat mengetuk pintu langit seraya akan semakin sulit untuk mendapatkan kunci pintu langit.

Beban semakin bertambah, tentu semakin menjadikan hati semakin membeku dan dua liang kuping semakin tertutup rapat. Bisikan hatinya semakin yakin jika memang perjalanan hidupnya semakin beranjak usia tua, semakin membuat hidupnya tidak nyaman. Seharusnya di umur senja ini sudah menikmati hidup dengan menunggu kapan usianya akan berakhir di jemput ujung umur.

Namun beban semakin bertambah, semakin membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak tadi ia hanya terduduk di perahu kecil, belum ada hasil tangkapan ikan yang menyangkut memakan umpan kail pancingnya. Sudah puluhan kali benang kail pancing di lempar, di tarik dan di ulur tetap saja ikan tidak mau memakan umpannya.

Sengatan terik matahari padahal sangat menyengat sekali sinar teriknya siang itu, namun hatinya semakin terkulik keputusan asaan. Wajah dan sekujur tubuhnya di biarkan terjilat oleh sengatan terik matahari seraya kulitnya tak berdaya berteriak kepanasan menghitam.

Jemari kanannya menyeka wajahnya bermain dengan peluh, perahu kecilnya bergerak seraya sedang di ajak bermain dengan riak gelombang kecil ombak. Ia menghela napas sembari mendongak langit, hatinya terasa berat untuk meminta pada langit agar segera menghalangi laju terik sengatan matahari dengan awan kelabu.

"Ya Tuhan, apa ini jawabanMu?" gumamnya dalam hati, raut wajahnya seraya kecut tidak yakin.

Benang kail bergerak, tandanya ada ikan tersangkut nata kail. Cepat dua tangannya menarik, kembali raut wajahnya terenyuh namun tidak bersedih. Puluhan meter benang kail pancing basah seraya kusut tergeletak di permukaan perahu, satupun ikan seperti tidak sudi memakan umpan di setiap mata kail.

"Kang Karno, dapat banyak ikannya?" tanya nelayan berperawakan kurus mendayung sampan, perahu kecil mendekati perahu yang di gunakan lelaki tua.

"Mungkin hari ini bukan nasib baik saya, Arja. Lihat saja, perahu saya masih kosong. Satupun ikan tidak saya dapatin hari ini," jawab lelaki tua, sembari menoleh kearah perahu sebelahnya banyak ikan tergeletak mati lemas di permukaan perahu.

Ada rasa kasihan dan iba lelaki berperawakan kurus hatinya di bisiki untuk berbuat kebaikan membagi ikan hasil tangkapannya siang itu untuk lelaki tua yang sebenarnya ia di segani di kampung nelayan. Wajahnya Arja menghitam karena membiarkan sengatan terik matahari membakar wajahnya.

"Ambil ini," di raupnya dengan dua tangan, cukup banyak ikan akan di berikan pada lelaki tua tidak enak hati. Nelayan itu memaksa agar Karno mau menerima pemberian ikannya.

"Terima kasih. Terima kasih, Ar. Untuk kamu saja," tolaknya halus, padahal dua matanya melihat banyak ikan dalam raupan dua tangan nelayan di perahu sebelahnya.

"Mungkin hari ini saya tidak mendapatkan hasil. Siapa tahu besok saya dapat banyak," __ "Amien," nadanya suaranya terdengar lirih di jawab Arja tersenyum sejenak menatap lelaki tua masih di sebelah perahu kecilnya.

"Kang Karno, tadi para nelayan lagi ngomongin anak Kang Karno, maksudnya Aswan?" __ "Aswan?" terkejut Karno saat Arja mengatakan anaknya.

Arja sejenak menatap wajah lelaki tua yang semakin mengerut dan hitam karena di biarkan bebas oleh jilatan sengatan terik matahari.

"Kang Karno mau kemana? Kata nelayan, anak Kang Karno si Aswan datang bersama keluarganya!" Arja terkejut dan memanggil lelaki tua tidak peduli, ia cepat mendayung perahunya.

Lihat selengkapnya