"Kalian mau meminta apa dari Aswan, hak kalian?! Aswan sudah tidak lagi bekerja, dia sudah di pecat! Pulang kalian!" di bentaknya warga sejak tadi berdiri menunggu mantan pejabat yang sudah merampas haknya.
Sejenak Karno menghela napas menahan kesabaran, walau hatinya semakin terasa malu dengan perbuatan anak sulungnya pada warga kampung nelayan. Ia menoleh kesamping kanan masih terparkir mobil warna putih.
Ia berdiri sendiri berteman gelap malam tersamar cahaya lampu kecil menyorot wajahnya semakin jelas terlihat menua di bebani banyak pikiran. Ia merasa segan dan kecewa, bila benar Sang Ilahi semakin tidak menjawab doa-doanya. Seraya ia semakin tidak ingin menjalankan perintahNya, apalagi menjalankan lima waktu yang selalu menguntai memanjatkan doa-doa padaNya.
Suara hatinya semakin memekik lirih, walau tak sampai dua matanya menumpahkan kesedihan. Tidak mengapa ia hanya menahan rasa malu, semua itu di lakukan hanya demi untuk anaknya terhindar dari masalah. Suara samar dari kejauhan riak gemuruh ombak terdengar jelas memecah keheningan malam.
Sejenak ia menoleh kekanan terasa sepi hanya hamparan tanah kosong melihat lagi terparkir mobil milik anaknya, lalu dua kakinya mengajak berbalik. Terasa malas mengajak dua kakinya untuk masuk kedalam rumah. Tatapanya terenyuh sendu menatap tampak depan rumah sederhana yang kesemuanya terbuat dari potongan bilah dan anyaman bambu.
Dari dalam kamar, sejak tadi dua mata memandanginya terenyuh sedih namun berat untuk meneteskan air mata. Tidak mau bapaknya melihat, jika ia sejak tadi melihatnya dari dalam kamar. Tirai jendela di turunkannya, di sertai langkah jalan dua kaki mengajaknya masuk kedalam tidak mau berlama-lama di luar.
"Apa ini jawabannya bu?" tanya singkat suaminya pada istrinya hanya terduduk. Raut wajahnya seraya memelas belas kasihan pada suaminya agar tenang mempercayainya.
"Pak?" __ "Semakin berat, mulut ini untuk memujinya kembali," saat istrinya berusaha menyakinkan suaminya menjawab dengan nada putus asa.
"Pak, bu. Aku berangkat," begitu saja anak gadisnya berangkat tanpa mencium menyalami tangan kedua orang tuanya.
Kedua mata seorang bapak mulai berlinang perhatikan dari belakang anak gadisnya berjalan, pakaiannya seksi, makeupnya tebal dengan wewangian menyelimuti tubuhnya. Tetesan air mata kali ini tidak berdusta, tetesan air mata rasa kekecewaan seorang bapak pada anak-anaknya mulai nampak. Mungkin saja benaknya semakin tidak kuasa untuk berteriak menyalahkan Sang Ilahi.
Kenapa ia memiliki dua anak-anak yang sesungguhnya sangat di harapkan dalam setiap doa-doanya menjadi anak-anak yang baik dan berbakti. Nyatanya tidak, doanya tidak berwujud kenyataan yang justru membuat seorang bapak semakin jatuh dalam kubangan dosa dan gagal sebagai orang tua. Ia merasa gagal mendidik merawat anak-anaknya yang telah salah jalan.
"Pak, jangan putus asa ya. Biarlah rasa malu selalu datang menghinggapi kita berdua. Tapi keyakinan kita tetap satu, kita selalu bermohon padaNya agar anak-anak kita kembali kejalan yang benar," tutur istrinya menatap tersenyum sendu pada suaminya hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya.
Sementara di dalam kamar, sejak tadi dua kuping anak bungsunya sudah mendengar keluh kesah bapak dan ibunya. Dua kakinya terasa lemas, hatinya semakin terbisiki oleh kesedihan dan keprihatinan yang sedang di alami dua orang tuanya. Pandangannya terenyuh sendu kini menatap istri dan anaknya terlelap tidur di ranjang sederhana, beda dengan ranjang di rumahnya terasa empuk dan nyaman.