MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #7

MENGETUK HATI YANG BERSEDIH

"Kamu jangan diam saja mas! Usaha atau kerja apaan aja kek, jangan diam aja! Pusing aku, mas! Aku butuh biaya untuk Putra sekolah! Untung saja aku masih ada sisa sedikit uang untuk bayar sekolahnya, Putra!" makin tidak tahan, istrinya meluapkan amarahnya.

Tidak biasanya istrinya marah sempai begitu, biasanya istrinya selalu sabar dan tenang-tenang saja. Kalau waktu suaminya masih jadi pejabat, ia sama sekali tidak kekurangan uang. Tapi istrinya saja tidak tahu, jika selama ini ia di manja dengan kemewahan dari hasil korupsi suaminya.

Sedangkan Aswan sejak dari tadi ia hanya terbaring tidur, tidak tahu apa di pikirannya sampai-saampai ocehan istrinya cuman masuk kiri keluar kanan kupingnya.

"Bangun dong mas, jangan tiduran aja," nadanya suaranya kali ini terdengar pelan. Malahan suaminya berbalik tidur membelakangi istrinya semakin tidak tahan air matanya tumpah basahi wajahnya.

Lalu ia terduduk sama-sama membelakangi suaminya kali ini bantal menutupi kuping kanannya. Suaminya tidak mau mendengar tangisan dan ocehan istrinya lagi.

"Bukannya aku tidak terima dengan keadaan sekarang ini mas. Biasanya setiap permintaan aku, kamu selalu penuhi mas. Uang di dompet tidak pernah habis, sekali habis kamu selalu mengisinya. Baru kali ini aku merasakan hidup begini mas. Seakan aku tidak terima. Mas, aku memahami apa yang terjadi denganmu. Aku mau ikut kamu kesini, walau rasa malu mulai membelengguku. Aku tidak peduli, asal aku bisa bersamamu," tutur panjang sesenggukan makin basah air mata membasahi wajahnya.

Jemari kanannya menyeka wajah basahnya, Vety menghela napas seraya ia menahan kesabarannya dan sudah berdiri perhatikan suaminya masih terbaring tidur membelakanginya. Ia menoleh mukena warna merah muda sudah di sodorkan ibu mertuanya untuk mengetuk hatinya agar segera membasuh wajah dan sekujur tubuhnya.

"Sholat, ibu yakin segala sesuatu tidak ada yang mustahil pasti akan terjawab dengan sholat. Kejadian ini petanda teguran untuk keluargamu," tutur ibu mertuanya, ia juga ikut merasakan keprihatinan yang sedang di alami biduk keluarga anaknya.

Tatapan seorang ibu dalam semakin mengundang kesedihan namun masih tertahan tidak ingin mengundang air mata, ketika seorang ibu melihat anaknya masih terbaring tidur menyamping membelakanginya dan istrinya.

Padahal anak sulungnya tidak pejamkan dua mata, dua matanya berderian tetesan air mata. Dua matanya memerah berkaca-kaca, tangisannya kecil tidak di dengar ibu dan istrinya. Walau hatinya menjerit menangis dengan keadaannya saat ini, beda ketika ia masih bekerja dengan jabatan menterengnya, ia tidak pernah merasakan sesulit sekarang ini.

***

"Jadi Bi Sarah kerjanya sampai tengah malam? Kalau boleh aku tahu, Bi Sarah kerjanya apa?" tanya keponakannya pada gadis yang di panggilnya bibi sedang makan bakso.

Sarah mau menjawab kikuk dan canggung, padahal ponakannya sedang menunggu jawaban sesaat walau mulutnya masih mengunyah bakso. Kalaupun ia menjawab, pasti bakalan keponakannya kecewa padanya.

Lihat selengkapnya