MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #8

MASIH TERJAGA DARI TIDUR

Masih terjaga dari tidur seraya hatinya tercekam gelisah bercampur cemas masih mengulik dua matanya terjaga sepanjang malam. Padahal istri dan anaknya sejak dari tadi sudah terlelap tidur. Tatapannya terenyuh saat menatap wajah anak satu-satunya tertidur dalam pelukan ibunya.

Tidak seperti biasanya, tidur anaknya selalu mengenakan selimut tebal untuk mengusir hawa dingin kamar yang terperangkap sejuknya angin air conditioner. Kali ini, tidurnya anaknya hanya mengenakan kaos singlet dan mengenakan celana pendek karena saking kegerahan, maklum rumahnya tidak jauh dari pesisir pantai.

Jemari kirinya lalu mengusap wajah anaknya, lalu berpindah sejenak mendarat di wajah istrinya. Kini ia terenyuh sedih seraya hatinya di guncang rasa bersalah. Andai saja ia tidak melakukan kesalahan fatal yang di buatnya, tentu hidup istri dan anaknya tidak seperti sekarang ini.

Ia tidak kuasa menahan tangisan, lalu cepat beranjak bangun karena tidak mau istri dan anaknya terjaga bangun mendengar suara tangisannya. Dua kakinya pelan mengajak berjalan meninggalkan istri dan anaknya, sesaat ia menoleh jendela tirainya terbuka lebar.

Aswan menoleh menatap mobilnya masih terparkir, makin di tahan air matanya semakin ia merasakan kesedihan. Lalu ia bergegas mengajak dua kakinya segera beranjak jalan keluar dari kamar.

***

"Ya Allah, Tuhan kami, segala puji bagiMu. Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagiMu, Engkau penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagiMu, Engkau cahaya langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagiMu, Engkau Maha Benar, janjiMu benar, pertemuan denganMu benar, firmanMu benar, surga benar, neraka benar, para nabi benar, Nabi Muhammad SAW benar, dan hari kiamat benar. Ya Allah, kepadaMu aku berserah diri, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku bertawakal, kepadaMu aku kembali, dengan pertolonganMu aku berdebat, kepadaMu aku berhukum. Maka, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, dan apa yang Engkau lebih mengetahui daripada aku. Engkaulah yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada Tuhan selain Engkau," tetesan air matanya semakin sembab membasahi wajahnya, dua tangannya masih menengadah dan tidak di sadarinya, sejak sedari tadi anak sulungnya sudah berdiri menyamping.

Aswan ikut terenyuh saat melihat ibunya, ia masih terjaga di tengah malam dan hanya sholat tahajud selalu di lakukannya untuk mengetuk pintu langit yang tidak lagi terkunci.

"Assalamu’alaikum warahmatullah,"  salam terucap menoleh kanan lalu kekiri.

Sempat terkejut saat melihat anaknya masih berdiri menyamping, lalu beranjak bangun melepit sajadah dan di sandarkan pada sandaran kursi kayu.

"Kamu belum tidur Aswan?" tanya ibunya suara pelan takut membangunkan cucu dan menantunya tidur dalam kamar.

"Aku nggak bisa tidur bu," jawab anaknya sudah terduduk, gelagatnya gelisah hanya perhatikan ibunya menunggingkan teko keluar air putih penuhi gelas lalu di berikan untuknya.

Lihat selengkapnya