MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #9

KEMBALI PULANG

"Di hargai atau tidak tidak hargai, itu tak terlalu penting mas. Yang penting bagiku, kamu sudah berusaha untuk membuktikan ada niat baik dan tulus untuk merubah keadaan ini. Semua impian manis kita sudah hanyut terhempas terbawa ombak. Mas, sekarang ini, hanya rumah sederhana itu. Rumah, di mana kamu harus kembali pulang setelah menguras peluhmu untuk masa depan kita," tuturnya, sempat ia menoleh perhatikan rumah lalu kembali perhatikan hamparan lautan luas beratap langit cerah.

Raut wajahnya terenyuh sendu seraya ada benarnya dengan kata-kata istrinya. Mendongak sejenak kelangit seraya hatinya berbisik tersenyum sungguh indah ciptaan Sang Ilhai. Lalu Aswan menoleh menatap wajah istrinya mengangguk yakin mantapkan niat suaminya. Keduanya masih berdiri di tanggul terhempas semilir angin pantai sulit menggoda keduanya untuk tidak tergoyah dengan niatnya.

"Ayah! Ibu!" keduanya menoleh kesamping kanan di sertai senyuman haru.

Langkah kecil namun pasti sampai pada ayah ibunya tersenyum menanti anak satu-satu baru pulang sekolah berlari kecil sepanjang di permukaan tanggul.

"Ibu, ayah lihat ini," ayahnya langsung menggendong anaknya tersenyum bahagia memberikan selembar kertas pada ibunya.

"Nilai yang hari ini kamu dapatkan dengan daya upaya kamu belajar. Ibu bangga sama kamu, Putra. Ibu yakin, kelak besar nanti kamu bisa menjadi sukses," lagi tuturnya tersenyum sejenak perhatikan selembar soal ulangan mendapatkan nilai delapan puluh enam.

"Ayah, ibu doa'kan aku ya. Biar kelak nanti aku dewasa, aku ingin jadi pengusaha sukses," kedua orang tuanya terenyuh sedih. Ayahnya mencium kening anaknya masih dalam gendongannya.

"Sesukses apapun nanti, kamu selalu ingat ayah dan ibu. Kamu harus kembali pulang, karena pelukan hangat ayah dan ibu selalu menantimu begitu doa-doa ayah ibu selalu menyertaimu," __ "Iya, aku akan selalu ingat ayah dan ibu. Dan aku akan selalu kembali pulang," ibunya seraya yakin dengan keinginan anaknya yang begitu juga semakin yakin. Ketiganya sejenak terenyuh menatap hamparan luas lautan.

***

"Andai kamu tidak ingat untuk kembali pulang, tak mengapa. Aku sudah ikhlas jika kamu menemukan seorang gadis yang telah mengetuk hatimu untuk mengajak berpaling dariku," nadanya seraya pasrah setelah gadis yang selama ini hanya terbaring tidur, tidak bisa berbuat apa-apa.

Suaminya tidak menjawab setelah ia selesai menggantikan baju dan menyisiri rambutnya. Jelas tatapannya sendu sedih terlihat jelas di cermin meja rias. Dua matanya mulai berkaca-kaca seraya batinnya terpukul merasa bersalah pada suaminya yang selama ini di biarkan bebas mengumbar mencari kepuasan batinnya di luar sana.

Sejak Bulan sakit, ia sama sekali tidak bisa memberikan kepuasan batin untuk suaminya. Justru suaminya yang selama ini berusaha untuk membahagiakannya. Terlihat suaminya di cermin meja rias sedang menyeduh teh hangat untuknya, berdiri membelakanginya.

Lihat selengkapnya