Masakan sederhana sudah tersaji di meja makan. Menantunya masih menggoreng ikan, sekali tangannya terkena cipratan minyak panas.
"Auw!" __ "Biar ibu saja," spatula di letakan di atas penggorengan masih menggoreng ikan dan ibu mertuanya tersenyum melihat bibir menantunya meniup-niup permuakan tangannya yang terkena cipratan minyak panas.
"Mbak biasanya tinggal makan. Apa-apa udah di siapin sama pembantu," sindirnya adik iparnya pada kakak iparnya telunjuk kirinya mengelus permukan tangan terasa sedikit melepuh.
"Sarah, cepat ambilkan ibu piring," suruh ibunya pada anak gadisnya segera mengambil piring seraya untuk mengalihkan agar tidak lagi menyindir kakak iparnya.
Rasa gusar dan kesal, walau raut wajahnya di paksakan tersenyum. Hatinya berusaha sabar, walau bibirnya sudah tidak tahan ingin membalas melontarkan kata-kata sindiran untuk adik iparnya. Selesai ia meletakan alat makan, dan menuangkan air minum.
"Ibu, aku jemput Putra di sekolah ya?" sejenak Vety menunggu jawaban ibu mertuanya mengangkat ikan goreng dan di letakan pada permukaan piring.
"Sana jemput anakmu," jawab ibunya meletakan piring berisi ikan goreng dengan makannya lainnya.
"Mbak Vety, emang benar Mas Aswan ngelaut?" baru saja kakak iparnya beranjak jalan, dua kakinya mengajak berhenti.
Vety berbalik sejenak menoleh ibunya menyeka peluh di wajahnya dengan ujung hijab warna putihnya. Kakaknya ipar tidak menjawab, ia semakin ragu untuk menjawab pertanyaan adik iparnya.
"Iya benar, masmu melaut. Masmu butuh biaya untuk hidup dan keperluan sekolah Putra," di jawab dengan ibunya keningnya berkerinyit. Sarah lalu terduduk di kursi, kakinya di angkat satu dan satu kakinya menyentuh lantai.
"Aku nggak yakin bu sama Mas Aswan," di pocelnya ikan goreng sembari berujar lagi-lagi tidak yakin. Ikan goreng di kunyah dan di pocel lagi.
"Maksudmu apa Sar?" tanya balik kakak iparnya, dua kakinya semakin ingin mengajaknya berpaling dan segera berjalan meninggalkan adik iparnya. Mungkin saja dua mata kakinya sudah peka melihat gelagat tidak enak akan segera terjadi pertengkaran.
"Ya aku nggak yakin aja sama suaminya Mbak Vety. Takut kalau nggak balik pulang, terus perahu milik juragan Tatang di bawa pergi," __ "Sarah jangan begitu ngomongnya. Vety, sudah sana jemput anakmu," benar saja tutur kata adik iparnya seraya menyindir dan menuduh kakak iparnya dan untung saja segera di lerai ibunya.
Lalu Sarah beranjak bangun mengambil segelas air putih dan di minumnya.
"Sar, setiap orang pasti punya rekam jejak kehidupan yang tidak baik. Tapi aku sebagai istrinya, yakin dengan suamiku sendiri. Mas Aswan bisa berubah!" __ "Brugg!" gelas di letakan di meja sampai menimbulkan suaranya saat kakak iparnya membantah tuduhan adik iparnya.