MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #11

RASA TIDAK PERCAYA

Sungguh terasa berat memang untuk melupakan kenangan masa-masa indah hidup bergelimang harta, dan kini kenyataan pahit harus di alami tentang cerita kehidupan yang sungguh terasa sulit untuk di hindari.

Benar jika ada uang dan segalanya, siapapun akan datang menghampiri memberi hormat, walau tak di perintahnya. Beda keadaan sekarang ini, mencari lembaran rupiah saja harus mengeluarkan peluh dan ancaman nyawa ketika berada di tengah lautan lepas.

Jemarinya tidak lagi selalu menggenggam balpoint, setelah tanda tangan di bubuhi pada secarik kertas pasti akan ada kontrak besar menghasilkan keuntungan besar.

Tampak terasa sakit pedih telapak tangannya terlihat kasar saat kadang pegang kemudi perahu dan kadang membantu menarik jala dari lautan lepas. Panas selalu datang menyengat, sinar teriknya membuat kulitnya terbakar gosong, beda saat ia berada di ruangan dingin hanya selalu terduduk menanti keuntungan berlandas dosa begitu mudahnya selalu datang menghampiri.

Kali ini ia harus berjibaku dengan waktu dan kurangnya bersahabat lautan lepas yang kapan waktu bisa menghampaskan perahunya. Kadang jala yang di tebarnya mendapatkan ikan, terkadang tidak, itu harus menuntut hati dan benaknya penuh dengan kesabaran.

Nelayan yang lain tidak mau menjadi temannya selama berada di lautan lepas, mungkin para nelayan masih menyimpan rasa sakit hatinya pada mantan pejabat yang kini sudah beralih fropesi menjadi nelayan. Sejenak ia berdiri perhatikan Arja sedang khusu sholat, walau terkadang ikut terombang-ambing karena terpaan riak gelombang ombak.

Arja tetap yakin dan bersujud ketika keningnya menyentuh sajadah yang di bawahnya dari rumah. Tidak ada alasan apapun, walau berada di manapun, apa yang sedang terjadi, dan walau saat ini berada di tengah lautan, lelaki berperawakan kurus tetap sholat.

Lalu pandangannya menatap langit luas memayungi hamparan lautan yang tiada batasnya. "Rasanya tidak percaya dengan apa yang sedang aku jalani saat ini," gumamnya dalam hati tersenyum kecil masih mendongak langit mulai datang senja.

"Mas Aswan tidak sholat?" tanya rekannya selama di tengah lautan, Arja menemai Aswan yang kali ini menjadi bossnya selama berada di tengah lautan.

Bibirnya tidak menjawab pertanyaan lelaki setengah baya, ia adalah sahabat baik ayahnya. "Mas kita coba lagi tebar jalanya, siapa tahu kali ini jalanya yang kita tebar atas seizin Allah. Jalanya banyak ikannya," yakin tuturnya katanya sembari melebarkan jala besar di bantu dua tangan Aswan terlihat ragu.

Jala besar sudah di tebarnya perlahan tenggelam kelautan mencari ikan yang nasib apes masuk dalam perangkap jala besar itu. Sedangkan Aswan sudah pegang kemudi perahu seraya di perintah dengan arahan tangan Arja untuk segera perlahan mengajak perahu berbelok kekanan.

Perahu kemudian memutar pelan saat dua tangannya memutar kemudi perahu ikut memutar kekanan. Jala dalam lautan ikut tertarik pelan berputar seraya menjebak ikan-ikan agar berenang dan masuk dalam perangkap jala. Perahu sudah berhenti dan bergegas lelaki setengah baya yang teman baik ayahnya, ia segera menurunkan jangkar.

"Mas, semoga dapat banyak ikannya?" ujarnya dan yakin Arja menarik tali tambang di bantu Aswan, raut wajahnya mulai tersenyum yakin jika banyak ikan terperangkap dalam jala.

"Mas?" sontak lemas dua tangannya saat jala tidak terlihat banyak ikan.

Lihat selengkapnya