MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #12

SUNGGUH JATUH CINTA

"Bapak urus saja sendiri diri bapak, jangan ikut campur urusan aku! Apa bapak selama ini mau tahu, tentang apa yang aku raaakan selama ini! Bapak cuman bisa marah, ngelarang aku agar tidak begini, begitu! Tapi bapak nggak cari tahu, kenapa aku jadi seperti ini!" anak gadisnya marah menuding bapaknya.

"Pak, aku juga nggak mau kerja di warung. Aku tahu anggapan di luar sana, pasti aku jadi cibiran mereka. Andai saja bapak sama ibu mau adil denganku. Aku kepengen sekali sekolah tinggi, agar aku bisa kerja. Tapi bapak dan ibu tidak peduli dengan keinginanku. Bapak ibu hanya peduli dengan Mas Aswan," lagi tuturnya Sarah wajahnya basah air mata kemarahannya.

"Sarah?" __ "Sudah Mbak Vety, jangan berpura-pura baik samaku! Urus saja suami mbak!" kakak iparnya seraya peduli dengan adik iparnya sontak di bentaknya, ia terdiam.

"Aku jatuh cinta, iya aku sudah jatuh cinta sama suami orang!" bibirnya berkata jujur, ibu dan bapaknya hanya terdiam menghela napas kesabaran.

Entah apa lagi cobaan yang datang kali ini, andai orang tahu apa yang tengah terjadi dengan perbuatan anak gadisnya, tentunya akan jadi momok dan pergunjingan orang.

Apa ini nasib orang tua yang selalu mendapatkan kesukaran, dan selalu menanggung beban berpayung kesedihan dan rasa sakit yang sungguh menyayat hatinya. Saat anak-anaknya tidak berhenti-hentinya membuat ulah dan masalah, kali ini tentu cobaan semakin berat terasa di pinggul kedua orang tuanya dengan pengakuan anak gadisnya.

Terik sinar matahari semakin bebas menyengat setiap sanubari yang terjebak dalam kesedihan, sehingga menambah rasa panas membakar ubun-ubun dan seraya ingin meluapkan emosinya. Kakak iparnya menoleh kearah pintu terbuka lebar, sejak tadi gadis yang selama ini hanya terbaring di ranjang, siang itu ia sudah datang hanya terduduk di kursi roda.

"Maafin gua, Sar. Gua terpaksa ngajak Mbak Bulan kesini. Mbak Bulan mau nemuin dan ada yang mau di omongin sama loe," Tami gemetar ketakutan dua tangannya mendorong handle kursi roda perlahan berjalan.

Sarah tidak berani menatap wajah gadis itu, raut wajahnya pucat kertas dan bibirnya mengering mungkin saja terlalu banyak minum obat selama ia sakit. Ia tersenyum, parasnya cantik terbalut hijab warna hitam senada dan dress panjang yang di pakainya siang itu.

Ibu dan bapaknya semakin tidak enak hatinya seraya miris dengan perbuatan anaknya pada gadis itu, gadis itu sudah bersuami yang suaminya di rebut oleh anak gadisnya sendiri.

Vety menoleh Tami mengangguk mundur berdiri di samping teman seprofesinya dengannya, yang keduanya duduk bersebelahan tanpa ingin melihat wajah seorang gadis yang sudah bersuami. Lalu dua tangannya meraih handle kurrsi roda di dorongnya kehadapan adik iparnya.

Lihat selengkapnya