Raut wajahnya kian terpapar kecemasan bercampur gelisah, dua matanya tak berkedip sejak tadi menatap pelataran halaman rumah hanya terparkir mobil warna putih milik anaknya. Ingin menangis namun air mata seraya sudah mengering, hanya dua matanya berkaca-kaca.
Malam semakin larut, masih terlalu pajang untuk menyingkirkannya untuk berganti dengan siang. Terusik dengan suara deburan ombak dari kejauhan seraya ingin memecahkan tanggul pantai. Mungkin saja dua mata kakinya ikut terjaga sejak sedari tadi, kini ingin terpejam walau dua telapak kaki sudah mengajak berjalan.
Rasa kesabaran yang selama ini di laluinya sepertinya tidak lama lagi akan gugur dengan banyak sekali benturan semakin membuatnya ragu untuk kembali percaya padaNya. Gentong berisi air yang selalu membasuh wajah dan sekujur tubuh untuk wudhu, sepertinya hanya terdiam membisu tidak mengajaknya untuk segera berwudhu.
Seraya kaku dua tangannya untuk meraup air membasuh wajahnya, hatinya semakin terkulik kepasraan yang berlawanan dengan hati kecilnya mengajak segera untuk mengambil wudhu. Tatapan raut wajahnya semakin jelas tergurat cemas bercampur kegelisahan terpapar sinar indung rembulan malam.
Ia berharap agar belahan hidupnya yang sejak tadi pergi entah kemana segera kembali, benaknya berharap cemas kemana suaminya pergi. Menahan deraian air mata berkepanjangan semakin membuat dadanya sesak, ia terpaksa mengajak dua matanya untuk menitikkan tetesan air mata hanya untuk melegakan sesak dadanya selama ini tertahan.
"Apa ini jawabanMu? Padahal setiap doa-doa dan ayat-ayat milikMu selalu aku panjatkan, selalu kupuji namaMu. Tapi selalu ini yang terjawab," gumamnya dalam hati seraya semakin tidak yakin. Seorang ibu, seorang istri yang walau suaminya tidak lagi ingin mengetuk pintu langit, karena hatinya kian terpapar ragu.
Istrinya tetap selalu yakin, walau dalam setiap sholatnya hanya sendiri tanpa ada imam, seharusnya suaminya menjadi imam. Justru suaminya yang semakin ragu tidak percaya lagi padaNya. Dua bola matanya sudah basah semakin jelas terpapar sinar indung rembulan malam. Hatinya semakin tergerus kesedihan dan amukan keraguan membuatnya menjadi kecewa.
Lalu ia berbalik membelakangi gentong wudhu bersebelahan dengan kamar mandi. Tatapannya tertegun menatap tampak bangunan rumah sederhana. Seraya ia teringat ketika ia baru saja menjajaki kehidupan baru dengan suami tercinta. Hingga sampai memiliki dua anak, akan tetapi impian dan harapan memiliki keluarga bahagia di rumah itu seperti semakin terhempas ombak lautan.
Terdengar suara derap langkah kaki berjalan mendekatinya, ia menoleh melirik kesamping kanan bawa. Benaknya berkata, suaminya yang sedang di nantinya sudah pulang. Ia mendongak, bukan suami yang di tunggunya pulang. Sejenak ia menatap wajah anak gadisnya sudah pulang berdiri menyamping.
"Ibu selalu memimpikan dalam rumah itu selalu terdengar tawa canda, keharmonisan dan kenyamanan. Tapi rasanya semua itu tidak ibu dapatkan dari rumah itu, saat dulunya hanya gubuk kecil dan sampai sekarang ini sudah berdiri rumah walau sederhana. Ibu, ayah sama sekali tidak pernah mendengar suara canda tawa, apalagi kehormanisan serta kenyamanan," tuturnya sedih menahan tangisan.
Seorang ibu sepertinya telah pasrah dengan keadaan rumah yang sesungguhnya telah di bangun dari gubuk kecil hingga saat sekarang ini walau hanya rumah sederhana. Ia sangat berharap ada kebersamaan, keharmonisan dan kenyamanan di temani canda tawa anak-anaknya.