Sejak dari semalam istrinya masih terjaga tidur, ia masih terduduk menyandar dingding luar kamar mandi. Walau dua bola matanya sudah sayu tidak tahan ingin mengajaknya terpejam, tapi dua mata wanita tua itu seraya di paksakan untuk tidak terpejam.
Padahal suara ayam jantan terdengar, suaranya berkokok dari kejauhan. Penikmat tidur sesaat pastinya sudah terjaga bangun dengan bisikan merdu suara adzan memanggil menggema memecah keheningan malam sebentar lagi segera datang pagi. Hatinya masih terombang-ambing seraya di terpa lautan ganas tidak bertepian.
Pandangan mata sejenak tertegun hatinya terusik dengan suara panggilan adzan. Ia sekali menghela napas sembari beranjak bangun, dua matanya semakin sayu sepet ingin sekali terpejam.
Ia menoleh gentong, seraya tersenyum hatinya tertawa kecil. Jemari kanannya memutar kran kecil, lalu dua tangannya mulai membasuh wajah dan sekujur tubuhnya.
Rasa sayu sepet dua matanya seraya sedikit segar saat terbasuh air dingin yang sejuk sampai menelusuk kedalam relung jiwanya. Walau hatinya cemas dan gelisah, ia terap berusaha untuk tidak ragu dan lupa padaNya. Selesai wudhu, hatinya kian mantap dan membisiki hatinya dengan niat sholatnya.
***
Lelaki tua itu masih tertidur di perahunya sampai tidak sadar perahunya semakin terombang-ambing tidak tahu kemana tepiannya. Sinar indung rembulan malam perlahan akan segera pamit, beda dengan taburan jutaan bintang yang sejak tadi sudah tidak lagi mengedipkan cahayanya.
Riak gelombang ombak lautan semakin mengajak perahu kecil ketepian pantai, di mana riak gelombang ombak masih terasa pasang. Masih belum terjaga bangun dari tidur, perahu semakin terdorong jauh menuju tepian pantai. Riak gelombang ombak besar sontak mendorongnya sampai terciprat air sekujur tubuhnya.
Lelaki itu terkejut dan beranjak bangun, terlambat saat ia ingin mengambil dayung, perahu kembali di hempas riak gelombang ombak besar. Perahu berbalik dan terhempas, sedangkan lelaki tua ikut tergulung ombak dan berusaha berenang namun tenggelam.
Semakin terombang-ambing, semakin berusaha untuk berenang dan keluar dari jilatan riak gelombang ombak namun usahanya gagal dan kembali lagi di terjang ombak. Napasnya sudah sesak tersengal-sengal, ia berusaha untuk berenang namun terhempas dan terhamtan riak gelombang ombak besar.
Lelaki tua berusaha untuk kembali berenang, namun riak ombak semakin besar menerjangnya dan lagi-lagi ia tenggelam dan berusaha untuk kembali kepermuakan dan kembali lagi terhantam riak ombak besar. Sementara jauh di pantai, nelayan sudah bersiap-siap untuk segera melaut.
Satu nelayan terkejut melihat perahu kecil terdampar di tepian pantai. "Ada perahu terdampar ...!" teriaknya kencang membuat nalayan datang menghampiri.
"Perahu itu?" __ "Itu perahu Kang Karno," satu nelayan menunjuk perahu sudah hancur dan di kenali oleh satu nelayan lainnya.
Semua nelayan panik cepat berlari mendekati bibir pantai, dua kaki nelayan berusaha berjalan melawan arus riak ombak lautan.
"Kang Karno ...! Kang Karno ...!" semua nelayan berteriak seraya ingin mencari dan menolong, walau setengah badannya sudah tenggelam melawan derasnya riak ombak menerjang mereka.
"Kalian? Kalian ngapain di situ ...?!" Arja berteriak memanggil para nelayan masih berdiri setengah badannya tenggelam.
"Mas, itu perahu bapakmu?" kata Arja menoleh Aswan sontak berlari tidak peduli celananya basah menghampiri para nelayan.