MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #15

ADA RASA SAYANG NAMUN MALU TERUNGKAP

"Walau ayahku koruptor, tapi aku bukan koruptor!" sangat gusar membantah dan sontak didorong satu murid terjatuh.

Mungkin saja anak itu tidak sudi jika sering dan hampir setiap hari ia di katai dan di bully oleh teman sekolah. Siang itu emosinya memuncak sampai ubun-ubun kepalanya dan berani menyangal membantah.

"Bapakmu koruptor, tetap tetap anak koruptor!" tuding satu anak balas mendorong Putra terjatuh.

Seketika semua murid memukul dan menginjak anak yang di sangka, anak koruptor. Ia hanya sendiri terjatuh meringkuk menahan sakit ketika tiga murid terus bertubi-tubi mukul dan menendang.

"Berhenti! Apa-apan si kalian!" bentak bibinya mau peduli pada keponakannya.

"Pergi! Pergi!" Dua tangan bibinya mengusir murid-murid berlarian ketakutan.

Setengah membungkuk sembari memapah bangun keponakannya menahan rasa sakit pada perut, wajah dan lengan kanannya, ada memar merah.

"Kamu jangan diam aja, Putra. Lawan dong!" gusar bibinya pada keponakannya menahan amarahnya.

Dua telapak tangan bibinya memukul pelan lengan, wajah serta mengusir debu pada seragam sekolah sudah kotor. Putra cuman terdiam, hatinya marah dan tidak terima. Tasnya lalu di ambil dan di gembok belakang punggung bibinya.

"Bibi, ibu mana?" tanya ponakannya bingung, biasanya yang anter dan jemput ibunya.

Tapi kenapa hari ini bibinya yang anter dan menjemput, tergurat bingung bertanya di raut wajah ponakannya. Baru saja berjalan, hati bocah itu mulai rada risih dan bingung jika sepanjang jalan selalu bertanya, kenapa hampir semua orang memperhatikan bibinya.

"Ibumu lagi kerumah sakit," __ "Ibu sakit?" baru saja bibinya menjawab sontak di sela keponakannya langsung tambah bingung.

Padahal keponakannya menunggu jawaban bibinya, dua mata bocah itu terenyuh saat perhatikan raut wajah bibinya terenyuh sedih yang terpoles makeup tebal dengan mengenakan pakaian seksi.

"Bi?" tanya singkat Purta pada bibinya tidak mau terlihat cemas seraya meyakinkan ponakannya agar tidak cemas.

Tatapan dalam Putra menatap terenyuh dua mata bibinya. Mungkin saja hati bibinya sedang tergoncang kesedihan yang mendalam, pikirannya sudah terkontaminasi rasa khawatir serta sayang pada ayahnya. Yang selama ini sesungguhnya sangat ia sayanginya, namun keegoisnnya justru selalu menghalangi malu untuk mengungkapkannya.

Dua kakinya bibinya mengajak berhenti, bukan terasa lelah saat berjalan. Tasnya gemblok di lepaskannya lalu di gemboknya kedepan dan ia terduduk jongkok. Keponakannya tersenyum saat wajah bibinya menoleh kebelakang sembari telapak tangannya menepuk sekali pundak belakangnya.

Putra tahu maksud bibinya, jika bibinya ingin menggendong belakang dirinya. Dua tangan memeluknya dari belakang di sertai bibinya beranjak bangun. Putra sudah di gendong belakang bibinya tersenyum seraya mematahkan pandangan dingin semua orang yang melihatnya. Jika semua orang tahu, jika pekerjaannya menggoda dan merayu lelaki di warung remang-remang.

Lihat selengkapnya