MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #16

SEBAB AKIBAT

"Mbak jangan nyalahin saya terus dong, harusnya mbak terima kasih sama saya!" __ "Harusnya kamu jangan ngajak Putra ketempat kerja kamu, Sar! Kan' bisa kamu ajak pulang Putra dari sekolah, langsung kerumah!" suara anak gadis dan menantunya terdengar dari luar kamar, dan membuatnya terjaga bangun tidak bisa beristirahat.

"Udah deh mbak, jangan nyalahin saya terus! Udah bagus saya mau anter jemput anak mbak sekolah. Ini malahan nyalahin saya terus! Lagian emang kenapa anak mbak saya ajak kewarung?!" terdengar lagi suara anak gadisnya tidak mau di salahin kakak iparnya.

"Pasti nanti Putra akan bertanya-tanya, kenapa bibinya kerja di warung!" __ "Emang salah kalau aku kerja di warung?! Mbak, walau aku kerja di warung, aku nggak sehina apa yang mbak pikirin! Aku kerja di warung, cuman ngelayanin minum aja. Nggak sampai ngelayanin lelaki yang mau gituan!" __ "Brugg!" makin terdengar lagi suara pertengkaran anak gadis dan menantunya di sertai suara lemparan barang terjatuh kelantai.

"Bu?" ingin beranjak bangun namun masih terasa lemas, ia ingin melerai anak gadis dan menantunya sedang bertengkar di luar kamar. Tapi tidak lagi terdengar pertengkaran, mungkin saja dua emosi sudah beranjak pergi.

Istrinya masih sholat saat suaminya sudah di paksakan terduduk di ranjang. Suaminya sekali menghela napas pelan, ia tidak bisa beristirahat yang di sarankan oleh dokter. Pikirannya semakin sengkarutmarut, raut wajahnya semakin tegang bergulat dengan emosinya.

"Assalaamu 'alaikum warahmatullah" suaranya terdengar pelan menoleh kiri dan kanan mengucapkan salam setelah selesai sholat.

Istrinya tidak lantas bangun, berat rasanya dua kakinya untuk mengajaknya berdiri. "Sampai kapan semua ini berakhir?" gumamnya dalam hati sekali ia menghela napas.

"Bapak, kenapa tidak tidur?" kata istrinya beranjak bangun sembari melipat sajadah lalu di letakan di sandaran kursi kayu.

Masih mengenakan mukena, lalu istrinya terduduk menyamping di ranjang. Sejenak tatapannya menatap wajah suaminya sudah terbaring tidur namun dua matanya kali ini sulit untuk terpejam. Istrinya menoleh menebar senyuman walau dua matanya mengajak berkaca-kaca.

"Bapak jangan terlalu banyak berpikiran tidak-tidak. Bapak harus ingat apa kata dokter, bapak harus banyak istirahat," istrinya begitu sangat peduli dengan kesehatan suaminya.

Tatapan matanya walau berkaca-kaca menatap dua matanya suaminya seraya tidak tahan dengan keadaan yang selalu di lihat dan di dengar setiap hari dalam rumah.

"Apa iya bu, semua ini harus kita berdua melewati cobaan ini?" ujar suaminya seraya hatinya telah lelah dan capek. Kedua matanya di paksakan ingin terpejam, tapi tidak bisa yang ada malahan menitikan setetes air mata.

"Pak, cobaan yang sedang kita hadapin sesungguhnya tidak akan di berikan pada hambanya, tanpa di luar kekuatan cobaan yang sedang kita hadapin," sembari terbaring tidur menyamping membelakangi suaminya, tetesan air mata kesedihan sudah membasahi tidak mau sampai suaminya tahu jika istrinya juga semakin larut daalm kepenatan keluarganya.

Lihat selengkapnya