MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #17

TERSIRAT CEMAS

"Aku tetap mau berada di sampingmu. Sejengkalpun aku tidak mau pergi meninggalkanmu," tandasnya terucap dari bibir seorang suami yang tentu saja semakin dilemma.

Seraya tidak kuasa suakinya hanya melihat kelemahan istrinya semakin hari sakitnya semakin menggerogoti tubuhnya sampai kurus kering, dan istrinya selalu meminta suaminya agar pergi menjauh.

Raut wajahnya pucat kertas, bibirnya membiru pasih seraya berat untuk menngungkapkan segala isi hatinya pada suami tercinta masih kekeh untuk ingin tetap bersamanya. Sejak tadi suaminya hanya terduduk menyamping sembari dua tangannya tidak ingin lepas masih menggenggam dua tangan istrinya terasa dingin.

"Pergi! Pergi saja kamu. Aku tidak berguna untukmu. Carilah gadis itu, gadis itu mencintaimu," sahutnya seraya keyakinannya yang tulus terucap meyakinkan suaminya.

Farid sebenarnya tidak tega, jika ia harus pergi meninggalkan istrinya dalam keadaan sakit. Semuanya berawal dari pencarian Tami dan Sarah, keduanya sempat mampir kewarung minuman yang tidak jauh dari rumahnya. Pemilik warung mungkin merasa iba kasihan dengan gadis tetangga, ia memberitahukan jika suaminya ada yang mencarinya, yaitu dua gadis cantik pekerja warung remang-remang.

Di hentakan dua tangan suaminya tidak lagi ada kehangatan, tidak lagi memeluk erat dua taangan istrinya yang dingin. Wajahnya tidak mau melihat, di palingkan kearah dinding tembok hanya terlihat putih polos warna catnya.

"Bulan, aku tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkanmu. Kamu masih ingat, bagaimana besarnya cintaku padamu. Rumah ini jadi saksi bisunya. Andai rumah ini bisa bicara, rumah ini akan ikut bersedih. Karena rumah ini tahu betul. Perjuangan kita dari nol, hingga terbangun rumah ini dari hasil kerja keras kita berdua. Sesungguhnya dua kakiku tidak mampu untuk melangkah keluar pergi dari rumah ini, meninggalkanmu," tutur suaminya beranjak bangun hatinya semakin hancur jika ia harus terpaksa mengajak dua kakinya untuk pergi meninggalkan istrinya.

"Anggaplah rumah ini hanya kenangan yang kita bangun dari mimpi. Iya mimpi dari tidur yang saat kita terjaga bangun. Mimpi itu akan sirna tanpa bekas," istrinya berusaha untuk beranjak bangun meraih gelas, dahaganya terpanggil haus ingin minum.

Suaminya tahu ingin membantu istrinya untuk segera mengusir hausnya, sedih hancur perasaan suaminya saat ingin meraih segelas air di nakas. Jemarinya di tepak oleh jemari dingin suaminya hanya terdiam. "Prangg!" terjatuh gelas berisi air membasahi lantai tidak sempat di minum istrinya, dan suaminya hanya terenyuh bersedih.

"Aku bisa hidup tanpamu. Pergi! Pergi tinggalkan aku, Farid!!!" bentaknya sembari pecah tangisannya terdengar pilu, nadanya tinggi mengusir suaminya yang masih tidak ingin dua kakinya segera mengajak pergi.

"Bulan, kasih aku kesempatan untuk tetep bersamamu. Iya, iya Bulan, aku akui bersalah padamu. Aku tidak setia dalam keadaanmu seperti ini. Aku berusaha untuk menghilangkan jejakmu dalam pikiranku. Aku emang tidak layak untuk menjadi suami yang baik untukmu. Seharusnya dalam keadaanmu seperti ini, aku tetap merekam setiap jejakmu dalam pikiranmu," dua tumit kakinya sudah menyentuh lantai menopangnya duduk dan dua tangannya bertumpu seraya memohon pada istrinya.

Tatapan tajam di sertai deraian air mata sudah basah. Tidak hanya wajahnya yang basah namun hatinya seraya telah basah dengan air mata ketidak berdayakan seorang istri saat sedang sakit.

Selalu terucap kata cinta dengan tulus, namun suaminya sempat-sempatnya mencari ketenangan hati sesaat bermain sejenak dengan gadis warung remang-remang.

Terasa kaku sekujur tubuh, dua tangan dan kakinya semakin sulit untuk di gerakan. Padahal belaian, dan butiran obat penyembuh selalu di minumnya. Akan tetapi kesembuhan yang di impiannya tak kunjung datang.

Lihat selengkapnya