MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #18

RUMAH YANG SELALU BERSEDIH

Terjatuh dan beranjak bangun, dua tangannya mendorong menolak bantuan suaminya berusaha untuk membantunya meringankan beban istrinya yang berusaha untuk beres-beres rumah.

Dua kakinya saja tidak mampu menopang tubuh ringkihnnya, dan kursi roda saja di biarkan kosong tanpa pemiliknya, seharusnya duduk.

"Aku bisa! Sono!" di bentak dan di dorong suaminya tidak berani hanya terdiam saat istrinya mencuci piring kotor di wastafel.

"Prangg!" piring terjatuh pecah kelantai.

Bulan sejenak terdiam, ia menahan kesedihan dan tidak mau lagi menyusahkan suaminya, walau sebenarnya ia berdiri saja merasakan lemas. Lalu ia membungkuk sontak terjatuh, wajahnya mengenai pecahan piring.

"Bulan, aku bantu?" __ "Aku bisa!" suaminya berusaha memapah bangun istrinya sontak di dorong lagi dengan nada mengusir.

Menahan sakit sembari terduduk, jemari kanannya berusaha mencabut pecahan piring dari wajahnya. Miris suaminya hanya terdiam berdiri tidak ingin membantu istrinya yang selalu di melarangnya.

"Sampai kapan kamu bersikeras kepala, Bulan?" __ "Sampai kamu pergi meninggalkanku!" suaminaya terduduk seraya memohon di jawab istrinya seraya mengusir nadanya ketus.

Setiap hari rumah itu selalu terdengar kesedihan, selalu banjir dengan air mata membasahi wajah keduanya. Kesabarannya semakin tidak terkendali, semakin tergoyah oleh hantaman riak gelombang ombak. Kesabarannya semakin tidak terkendali, walau Farid sudah berusaha untuk bersikap baik pada istrinya.

Istrinya seraya telah menutup pintu hatinya tidak lagi ingin suaminya berada di rumah, rumah di mana tempat menjadi impian keduanya. Dua kakinya istrinya berusaha beranjak bangun namun tidak kuat menopang dan lalu terjatuh lagi menahan sakit kepalanya.

"Biarkan aku! Aku bisa!" baru saja suaminya ingin membantu namun sudah di bentak lagi oleh istrinya.

Kesabarannya makin terkulik ketidak tahanannya, suaminya menatap dingin istrinya terjatuh saat berusaha beranjak bangun. Hatinya semakin murka karena niat tulus baiknya selalu terlerai terucap kasar dari mulut istrinya. Farid beranjak jalan pergi meninggalkan istrinya seorang diri.

Tatapan istrinya mungkin hanya menggertak suaminya saja yang telah pergi meninggalkannya. Sesungguhnya hatinya masih sangat mencintainya, padahal benaknya remuk redam berselimut kesedihan sebenarnya tidak ingin mengusir suaminya pergi meninggalkannya.

Hanya dengan cara itu, dengan cara membiarkan dan mengusir suaminya. Istrinya bisa sedikit puas, di mana suaminya bisa mendapatkan gadis yang tentunya bisa menjadi penggantinya.

Bulan terjatuh lagi, mungkin dua kakinya memang tidak kuat untuk menopang tubuhnya. Tatapanya kosong sedih menatap tidak lagi ada suaminya yang selama ini begitu tulus dan sabar merawat mengurusnya.

Lihat selengkapnya