MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #19

MASALAH DATANG SILIH BERGANTI

Suara musik dangdutan terdengar sampai keluar warung di sertai suara canda tawa lelaki merayu dengan kata pujian gombalnya ingin memikat dan menaklukkan hati gadis warung. Riuh ramai beratap kilau cahaya aneka warna lampu menyelimuti ruangan menerangi samar tarian joget iringan musik dangdutan.

Gerakan jogetnya gontai karena mabuk tetap di ladenin gadis warung dengan mengenakan pakaian seksi. Sebenarnya hatinya menangis semua gadis warung merasa tidak terima, hatinya teriris sedih dengan perlakukan lelaki pencari kenikmatan sesaat. Akan tetapi semua di lakukannya itu hanya demi menyambung hidup yang terasa sungguh sangat pahit.

Walau gadis warung sering di perlakukan tidak senonoh, namun ia tetap tersenyum dan tidak mengapa bau alkohol, mulutnya selalu menyemburkan asap rokok, walau hatinya terasa berat tidak menerima kenyataan pahit selalu di peluk cium terkadang di sentuh bagian sensitifnya, semua itu tak mengapa asal lembaran rupiah selalu masuk kedalam saku setiap gadis warung.

Pandangannya hanya perhatikan Tami dan gadis lainnya berjoget dengan lelaki sudah setengah mabuk. Ingin menangis tapi percuma pasti akan di sindir oleh Mami, wanita setengah baya pemilik warung. Jika dengan gadis yang bekerja di warungnya jangan mencintai lelaki pencari nikmat sesaat, pasti akan di sakiti.

Kali ini benar terjadi pada satu gadis warung, gadis itu hatinya sudah kadung dan hatinya tidak lagi bisa di pungkiri jika ia sudah jatuh cinta dengan lelaki yang datang dan pergi begitu saja. Padahal pandangannya melihat teman-temannya berjoget dengan lelaki, hatinya ingin sekali mengajak lelaki yang sejak tadi hanya terduduk mematung di sampingnya untuk di ajaknya berjoget.

Farid terasa dingin, hatinya sudah membeku seraya terhimpit gunungan es tidak mau menuruti kehendak gadis yang di kenalnya di warung itu. Sampai ia terusir pergi oleh istrinya yang merasa jika suaminya telah menemukan tambatan lain, seorang gadis yang bisa dan mampu menggantikannya sebagai seorang istri.

"Saya pergi dari rumah bukan berarti untuk membuka hati ini untuk kamu, tapi istri saya memang sepertinya sudah muak dengan ketulusan saya," tuturnya lagi lelaki tampan tubuhnya tidaklah terlalu gemuk mengenakan setelan kemeja berwarna biru muda.

Pandangan Farid tidak mingin menoleh pada gadis yang selama ini berharap cintanya akan berlabuh padanya. Beda dengan Sarah, ia justru berharap suami orang itu mau menatap wajahnya.

Hatinya semakin mengularkan kesedihan pada dua matanya sudah berkaca-kaca, tidak kali ini dua matanya mulai meneteskan air mata, seraya harapannya pupus.

Sarah merasa tersakiti hatinya pada lelaki yang duduk di sampingnya, selama ini ia sungguh sangat berharap jika Farid mau membuka hati untuknya.

Nyatanya jawaban tidak terucap dari lelaki yang telah memiliki istri. Sarah beranjak bangun berdiri membelakangi Farid, dua kakinya ingin mengajak beranjak bangun namun terasa ragu.

Sarah berbalik menatap dalam lelaki yang menolaknya halus cintanya. Tersenyum dan tertawa dingin seraya ingin meluapkan amarahnya namun tidak mungkin itu di lakukannya.

"Andai sejak dari awal kamu tidak mendekati dan tidak menggoda hatiku. Mungkin hatiku tidak akan tergoda dengan rayuan umpanmu. Sayangnya setelah ini rayuanmu sudah terjerat mata kail pancing yang kamu tebarkan, justru kamu malahan menarik kailnya meninggalkan pancingan itu. Kamu melupakan ikan yang sudah terjerat mata pancingmu," Sarah menuding tersamar tersenyum dingin tersamar suara musik dangdutan.

Lihat selengkapnya