MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #20

GELAP MALAM MASIH TERASA PANJANG

"Keluar! Keluar kalian semua!!!" teriakannya memecah kesunyian malam dengan berkali-kali mengarahkan pecahan kaca.

"Istighfar, Sarah. Istighfar," kali ini ibunya memohon pada anaknya sejenak ia terhenti langkahnya.

"Istighfar? Ibu mau aku istighfar? Kalau aku istighfar, apa ibu sama bapak mau peduli samaku?! Nggak. Ibu sama bapak nggak peduli samaku! Ibu sama bapak cuman peduli sama Bang Aswan! Sekarang kalian semuanya keluar, atau wajah kalian aku rusak dengan ini!" semua mundur makin ketakutan, nasehat ibunya saja tidak di dengar oleh anak gadisnya justru semakin meradang marah dan mengancam.

"Bi, Bi Sarah jangan suruh kami-kami keluar. Masa kami-kami harus tidur di luar?" pinta keponakannya pada bibinya hanya tertawa dingin, suara tawa semakin membuat kelima anggota keluarganya yang sudah berada di luar semakin tegang dan ketakutan.

"Kamu tidur di luar saja Putra. Kasih tahu ayahmu, sana korpusi lebih banyak lagi!" di sahutnya dengan nada tinggi sembari dua matanya melotot keluar dengan masih mengarahkan pecahan kaca.

"Brugg!" __ "Bi. Bi Sarah, buka pintunya. Bibi!" pintu di tutupnya dari dalam di sertai teriakan Putra sembari mengetuk pintu dan memanggil bibinya tanpa jawaban.

Kakek dan neneknya hanya terdiam mematung seraya keduanya tidak berdaya dengan kelakuan anak gadisnya menutup pintu dari dalam dan membiarkan kelima anggota keluarganya berada di luar berteman dengan malam berselimut angin dingin.

"Kakek, nenek kenapa Bi Sarah jahat sekali membiarkan kita di sini? Bu, aku ngantuk, besok aku sekolah terus ada ulangan," dua tangannya bersedakap menahan dingin sejenak Putra menatap sendu kakek dan nenek.

"Sini sama ayah. Sekarang sudah hangat'kan sudah tidak kedinginan lagi," di gendong dan di peluk erat oleh ayahnya mengusir dingin dari tubuh anaknya sedikit hilang sedihnya.

"Mas, malam masih terasa panjang. Kasihan bapak sama ibu?" kata istrinya pada suaminya menoleh bapak dan ibunya masih mematung seraya hati kian terkulik kesedihan namun dua matanya menahan tangisan.

"Yah, sebaiknya kita ajak kakek sama nenek tidur di mobil saja. Kasihan nenek sama kakek kedinginan," ujar anaknya menoleh mobil terparkir depan halaman rumah.

Sedikit tersenyum ayah dan ibunya, benar kata anaknya sebaiknya tidur di mobil saja. "Kuncinya di dalam kamar," lemas dua kakinya, semakin tidak tahu harus berbuat apa anak sulungnya walau berat beban masih menggendong anaknya, itu tidak mengapa. Tapi pikiran Aswan masih di terjang kebingungan dan kasihan melihat bapak dan ibunya menahan kedinginan.

Suara riak terpaan gelombang ombak samar terdengar namun sungguh dashyat gelombangnya karena pasang berusaha menaghatam tanggul pembatas pantai.

Lihat selengkapnya