MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #21

KENANGAN INDAH TERBAYAR CEMAS

Hanya diam seribu kata, hanya bisa melihat tanpa bisa melarangnya. Dua insan pecinta sedang di mabuk asmara tanpa tahu akankah berujung manis di kursi pelaminan. Canda tawa selalu terdengar dengan untaian nada rayuan yang terdengar gombal seraya hati keduanya yakin, jika cintanya akan selalu bersama.

Malam itu terasa sunyi sepi hening tidak terdengar suara musik dangdutan hanya kerlap-kerlip aneka warna lampu menggoda dua wajah sedang duduk seraya ingin berlama terduduk berdua tak ingin segera beranjak bangun. Sejak tadi Tami rada gusar hanya terdiam melihat temannya sedang di rayu manja oleh lelaki yang begitu sangat di pujanya.

Padahal sudah wanti-wanti Mami, pemilik warung meminta pada gadis-gadis warungnya agar tidak mudah jatuh cinta dan percaya pada lelaki pencari nikmat sesaat yang datang kewarung. Tapi tidak dengan Sarah, justru ia sudah jatuh dalam kubangan cinta yang pasti akan menjerat hatinya sendiri mencintai tanpa kepastian.

"Benar, masa saya bohong," ucapnya dengan dua matanya menatap dalam wajah gadis warung duduk di sampingnya.

"Janji?" __ "Janji. Saya akan menikahi kamu, Sar." terucap seraya bertanya dari bibir merekah beralas lipstik merah merona memastikan janji seorang lelaki yang semakin membuat hatinya terlena. Farid menjawab dengan sekali bibirnya mendarat di kening gadis berpakaian seksi semakin terbuai dan janji pastinya.

Sarah beranjak bangun sejenak menatap Farid balas tersenyum dan ikut beranjak bangun. Dua wajah saling menatap dan dua bibir saling mendekat akan bersentuhan.

"Prangg!" suara botol terjatuh, dua bibir tidak jadi bersentuhan hangat sekedar untuk berkecupan memastikan tanda cinta.

"Maaf, gua nggak sengaja," sembari membungkuk Tami mengambil botol, padahal ia sengaja menjatuhkan botol.

Mungkin saja Tami sudah lelah dan jengah melihat temannya begitu mudahnya takluk oleh rayuan gombal lelaki berjanji akan segera menikahinya.

"Sarah?" di panggilnya menoleh kearah gadis yang begitu saja berlari meninggalkannya.

Farid tersenyum menoleh pada Tami makin jengkel. Sarah berlari kearah tanggul pantai, ia berdiri di tanggul dengan dua tangannya merentang dan seraya bebas menghirup angin dingin malam bermain dengan riak gelombang ombak pasang menerjang tanggul.

"Susah emang kalau lagi di mabuk cinta. Lebih baik minum ini, mabuk benaran," gerutu temannya duduk di bale sembari mencekek leher botol minuman keras dan berapa kali di teguknya.

Farid sudah berdiri di samping gadis yang sedang mabuk karena rayuan dan janjinya.

"Benar kamu tulus menerima keadaanku? Aku hanya gadis warung?" akuinya dengan yakin menoleh wajah lelaki berdiri di sampingnya. Sarah menatap kesamping lelaki yang tidak menjawab, pandangan lelaki itu hanya menatap lautan luas berselimut gelap malam.

"Aku tidak peduli siapa kamu. Aku hanya peduli dan tulus mencintaimu," jawabnya, senyumannya tergurat pasti seraya meyakinkan Sarah semakin terlena hatinya.

Lihat selengkapnya