MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #22

AIR MATA

Menantunya mengosok minyak kayu putih pada dada ibu mertuanya agar hangat, namun rangsangan sentuhan telapak tangan hangat bercampur minyak kayu putih juga belum bisa membangunkan ibu mertuanya.

Sedangkan cucunya semakin ikut cemas berharap neneknya lekas siuman, dua tangan bocah itu tidak lelah mengurut dua kaki neneknya.

Sedangkan anak sulungnya berharap cemas menunggu adiknya belum datang membawa air hangat. Tatapan dua mata lelaki tua seraya tidak bergeming, padahal rasa kantuknya saja tertahan karena masih tengah malam. Namun dua matanya di paksa untuk selalu terjaga karena hatinya semakin bertanya cemas dengan keadaan istrinya.

"Bang, ini air hangatnya," di sodorkan segelas air hangat pada abangnya, adiknya kali ini takut tidak mau melihat wajah abangnya.

"Bu minum," lengan kanannya menyelinap masuk kebelakang leher ibunya dan tangan kirinya pelan membantu mendekatkan bibir gelas kebibir ibunya.

Sedikit demi sedikit air hangat masuk untuk mengusir dingin dari tubuh ibunya. Mungkin sejak tadi luar, ibunya kehujanan dan rasa dingin tidak di rasakannya.

Selimut saja sudah tiga lapis menyelimuti, dan minyak kayu putih sudah basah menghangatkan dadanya akan tetapi wanita tua itu belum juga siuman.

Dua matanya mulai berkaca-kaca, hati kecilnya mulai terasa ikut cemas dan gelisah. Sarah berjalan dan berdiri di samping ranjang, kakak iparnya beranjak bangun menarik turun anaknya dari ranjang.

Lalu Sarah terduduk menyamping sesaat menoleh pada abang dan bapaknya masih berharap cemas. Pelan tapi ragu jemari kanan tangannya ingin mengelus lengan kiri ibunya.

Dua matanya tidak lagi berkaca-kaca, hatinya mulai ingin mengajak menangis. Tetesan air mata mulai bermain di liang bawah mata dan terjun bebas membasahi wajahnya.

"Bu, maafin aku," ujarnya di sertai tetesan air mata dan memeluk ibunya. Sejenak semua hening tertegun menatap seorang anak memeluk hangat ibunya.

Kilauan titik air matanya yang keruh mulai terlihat jatuh menyamping kewajah wanita tua, dan jemarinya bergerak pelan tanda kehidupan masih ada.

"Kakek, nenek sudah siuman," ujar Putra tersenyum menoleh kakeknya terharu, dua matanya juga sudah di permainkan dengan kesedihan.

Lihat selengkapnya