"Mungkin Tuhan berkendak lain denganku, Mas Farid. Aku sudah tidak kuat, tidak kuat lagi menanggung beban sakit ini yang kuderita," ucapnya penuh lirih seorang istri yang hanya terbaring semakin tidak berdaya.
Raut wajahnya semakin pucat kertas, seraya malaikat sedang berada di sampingnya. Jemari tangannya tidak ingin lepas dalam pelukan jemari hangat suaminya duduk menyamping. Begitu juga tangisan suaminya tidak ingin menyurutkan niatnya, bila ia sangat mencintai istrinya dan berharap istrinya akan baik-baik saja.
"Aku janji akan tetap bersamamu walau dalam keadaan apapun yang terjadi denganmu," ucap suaminya lirih, tetesan air matanya sampai jatuh mengenai pergelangan tangan istrinya.
"Terima kasih, mas dengan kesetiaanmu sungguh aku dengar dari lubuk hati kecilmu yang terdalam. Tapi mas, rasanya waktu usiaku hanya sampai di sini. Rasanya malam ini langit sudah menyambutku, di mana anakku sedang menungguku juga di sana," lagi tuturnya sampai air matanya tidak di hiraukan sudah membasahi wajahnya kian sembab.
"Mas, sebelum aku pergi menemui anakku, anak kita di sorga. Aku punya dua permintaan yang kamu harus kabulkan," lagi ucapan itu semakin membuat nyali suaminya semakin nelangsa. Seraya kali ini ucapan istrinya benar, jika dua permintaan itu adalah dua permintaan terakhirnya.
"Aku janji akan turuti kabulkan dua permintaanmu. Tapi aku tidak mau kamu pergi. Kamu harus tetap berada di sisiku, Bulan." sahutnya, sembari Farid mendaratkan wajahnya di samping pipi kanan istrinya seraya ingin membisiki sesuatu.
Suasana semakin hening semakin penuh tangisan pilu terdengar memecah keheningan malam.
"Mas, permintaan pertamaku. Aku ingin sholat bersamamu. Kamu mau jadi imamku'kan?" jelas kupingnya mendengar suara istrinya penuh lirih seraya merasuk kedalam relung suaminya sontak mengular kesedihan dua matanya penuh tetesan air mata.
"Iya, aku mau sholat bersamamu. Tapi jangan kamukatakan jika malam ini sholat berjamaah terakhirmu bersamaku," jawab suaminya nadanya suaranya terdengar lirih sejenak menatap wajah istrinya sedikit tersenyum.
Dengan penuh kesabaran suaminya memakaikan mukena berwarna biru dongker sudah di kenakan istrinya terduduk di kursi. Di wajibkan memang bagi orang sakit, duduk di kursi roda atau dalam keadaan darurat tidak mengapa untuk menjalankan sholat.
Di luar sana hujan turun rintik tipis terbias samar dengan cahaya lampu yang menerangi pelataran halaman rumah dalam gang.
Samar sayup jelas terdengar suara untaian ayat-ayat milikNya mulai terdengar di kumandangankan bersama. Hujan tidak lagi rintik tipis, hujan turun semakin deras di sertai kilatan petir menyambar.
Pelataran halaman rumah basah, rumah itu sesungguhnya rumah impian dua insan pecinta. Rumah impian yang sebentar lagi akan di bawanya tidur abadi selamanya. Bulan seraya semakin pasrah dengan keadaan sakit, bila malam itu usianya akan berujung dengan pergi meninggalkan suaminya untuk selama-lamanya.