MENGETUK PINTU LANGIT YANG TERKUNCI

Herman Siem
Chapter #24

MENUTUP MULUT DEMI KETENANGAN

"Terus ntar loe kerja di mana Sar?" tanya Tami mulai terusik risau saat temannya tidak lagi mau bekerja di warung remang-remang.

Tidak lagi mengenakan pakaian seksi, wajahnya tidak lagi terpoles tebal makeup, dan bibirnya saja hanya asal terbalut lipstik warna merah.

"Gua mau jadi orang benar, Tam. Walau selama gua kerja di warung ini. Gua si emang nggak pernah macam-macam. Tapi tetap aja anggapan orang, gimana gitu," tuturnya terenyuh sedih sembari terduduk tidak lagi kakinya satunya menyilang bertumpu pada kaki satunya.

"Namanya juga mulut orang Sarah. Orang selalu nganggap gadis yang kerja di warung ini, pasti nggak-nggak. Apalagi gua, gua juga makin lama makin tua. Nggak mau jadi mami-mami warung remang-remang. Loe hitung dulu duit tabungan loe, kalau masih kurang loe ngomong aja, ntar gua tambahin," tutur wanita tua pemilik warung sembari berikan dua gepok uang lembaran kertas lima puluhan dan seratus ribuan.

"Makasih mi. Udah cukup mi. Ohh iya Tam. Gua bakalan bantuin abang gua. Abang gua lagi mau coba-coba jadi juragan perahu, ya kecil-kecilan dulu deh," jawab Sarah tersenyum sendu menoleh temannya seraya tidak rela teman seperjuangannya bekerja di warung remang-remang sebentar lagi pergi meninggalkannya.

"Makasih mi, gua udah di kasih kerja di sini. Harapaan gua, loe Tam sama loe, mi jangan terlalu lama begini-gini aja. Gua harap kalian berdua cepat ninggalin warung ini. Paling nggak hidup baik, dan punya kerjaan yang baik. Gua baru nyadar betapa sulitnya abang gua sekarang ini. Walau abang gua udah nggak lagi korupsi, tetap aja masih melekat kesalahannya yang di bikinnya," lagi tuturnya kali ini Sarah justru yang bersedih menatap Tami dan wanita tua pemilik warung semakin terenyuh sedih.

Suara deburan gelombang ombak semakin terdengar jelas walau sebentar lagi senja akan terusir oleh gelap malam. Gelombang pasang mulai terdengar seraya menghantam tanggul dan terlihat jilatan cakaran riak gelombang ombak sampai melewati tanggul pantai.

Rasanya tidak ingin melepaskan pelukannya, sesaat dua mata Sarah terenyuh menatap dua pasang mata wanita yang di peluknya lagi. Ketiganya tidak ingin melepaskan pelukan, hatinya terumbar sedih sampai mengular tangisan yang akan membuatnya saling merindu.

Sarah tidak lagi bekerja, dan ia punya tabungan selama ini bekerja di simpan dengan mami pemilik warung. Niatnya, uang itu untuk membantu abangnya cuman untuk menutup mulut-mulut demi ketenangan keluarganya.

***

Sejenak ia terduduk menatap bagian samping kanan mobil, kaca depannya sudah terganti dengan tripleks tipis. Hatinya memanggil sedih seraya tidak rela dan ikhlas bila harta satu-satunya sebentar lagi akan berpindah tangan darinya. Sekali telapak tangannya mengelus body mobil, lagi-lagi hatinya memanggil namanya agar tidak menjual mobil itu.

Ia beranjak, dua kakinya Aswan kali ini sudah berdiri tegap dan hatinya terusir dengan keyakinan.

"Deal bang dengan harga segitu?" tanya di tegasin lagi terucap dari lelaki bertubuh tambun sejenak menatap wajah pemilik mobil yang hatinya kembali ragu.

"Deal bang," jawabnya tegas raut wajahnya kembali tergurat ragu, lalu berjabat tangan dengan pembeli mobil.

Lihat selengkapnya