Kedamaian, penuh kehangatan, rasa kekeluargaan, ketenangan batin ibu dan bapaknya sungguh hanya memancarkan senyuman pada raut wajahnya yang menua.
Dua bola matanya yang semakin keruh, berkaca-kaca terpancar haru saat ini tidaklah untuk menumpahkan tetesan air mata. Batinnya seraya menari bahagia di atas awan surga sampai mengular menyingkirkan kesedihan untuk mengundang datangnya suka cita.
Karno yang sempat tidak percaya dan tidak ingin lagi mengetuk pintu langit, karena baginya percuma saja bila ia mengtuk pintu langit dan selalu memuji nama kebesaranNya, pintu langit akan selalu terkunci.
Percuma saja dengan segala daya upayanya ia selalu memuji penuh keyakinan dengan menguntai aya-ayat milikNya, namun selalu terbayar kenyataan pahit tak di harapkannya justru selalu datang menghampirinya.
Kali ini jawaban pintu seraya benar menjadi kenyataan baginya, Karno tidak lagi sungkan dan tidak lagi ingin berpaling padaNya, pemilik langit semesta ini. Karno dan keluarganya saat ini selalu mengetuk pintu langit dengan sholat berjamaah bersama keluarganya.
Bebannya terasa berkurang hanya ada senyuman dalam hati yang mengumbar pada raut wajah istrinya. Ia sempat putus asa dengan melihat keadaan suaminya yang tidak lagi ingin mengetuk pintu langit, karena bagi suaminya bila pintu langit sudah tertutup.
Anak gadisnya juga tidak lagi bekerja di warung remang-remang, ia kali ini yang selalu mengingatkan bapak ibu serta abangnya untuk tidak lupa mengetuk pintu langit walau dalam keadaan apapun dan di manapun berada.
Begitu juga dengan Vety, istri mantan pejabat mentereng, ia kini begitu semakin peduli dengan keluarga suaminya serta anak satu-satunya. Vety tidak lagi berselisih paham dengan adik iparnya yang sekarang ini sangat menghormatinya.
Lautan seraya teduh saat di pandang mata semakin luas beratap langit bahagia dengan tarian gulungan awan putih bermain dengan jilatan indung sinar planet terpanas.
Burung-burung seraya bebas dengan gerombolannya terbang jauh dengan kepakan sayapnya mencari makan menukik mencari makan di permukaan lautan lepas.
Suara tawa kecil terdengar seorang bocah yang pernah di janjikan kakek. "Kakek, aku dapat. Aku dapat ikan," suara bahagianya terdengar samar di tengah lautan mengusik memecah ketenangan lautan.
Kakeknya tersenyum bahagia melihat cucunya siang itu berhasil mendapatkan ikan terjerat pada mata kail pancingannya.
Riak gelombang ombak tidak terlalu besar mengajak menari perahu bergerak pelan. Tatapan seorang kakek tidak ingin berpaling dari cucunya kembali melemparkan tali kail pancing, dan sejenak menunggu lagi mata kail di makan ikan.
"Kakek, benar di balik langit itu ada Tuhan, Allah yang setiap hari malam atau siang, Dia selalu memperhatikan kita?" tanya cucunya sekali menarik kail.